<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.2.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Ngecrot.com</title>
	<link>http://ngecrot.com</link>
	<description>Free Mp3 Download , Sexy Photos and Video , Song Lyrics , Beautiful Girl</description>
	<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 23:07:49 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.2.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Foto Wanita Menyusui Kelihatan Puting Sexy Merah</title>
		<link>http://ngecrot.com/foto-bugil/foto-wanita-menyusui-kelihatan-puting-sexy-merah.html</link>
		<comments>http://ngecrot.com/foto-bugil/foto-wanita-menyusui-kelihatan-puting-sexy-merah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 22:57:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[foto bugil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ngecrot.com/foto-bugil/foto-wanita-menyusui-kelihatan-puting-sexy-merah.html</guid>
		<description><![CDATA[
Brought to you by  Ngecrot.com



RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi
Menimbang :&#160;
a. Bahwa negara Republik Indonesia  merupakan negara hukum yang
berdasarkan Pancasila yang lebih mengutamakan kepentingan
umum daripada kepentingan Pribadi;

b. Bahwa untuk mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang
serasi dan harmonis dalam keanekaragaman suku, agama, ras, dan
golongan/kelompok, perlu adanya sikap dan perilaku masyarakat yang
dilandasi moral, etika, akhlak yang mulia, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p><a href="http://www.ngecrot.com"><img border="0" src="http://img81.imageshack.us/img81/2302/agnesmonicazm8.gif" width="500" height="647"></a></p>
<p><font size="20">Brought to you by <a href="http://www.ngecrot.com"> Ngecrot.com</a></font></p>



<p>RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi</p>
<p>Menimbang :&nbsp;<br>
a. Bahwa negara Republik Indonesia  merupakan negara hukum yang<br>
berdasarkan Pancasila yang lebih mengutamakan kepentingan<br>
umum daripada kepentingan Pribadi;<br>
<br>
b. Bahwa untuk mewujudkan tatanan masyarakat Indonesia yang<br>
serasi dan harmonis dalam keanekaragaman suku, agama, ras, dan<br>
golongan/kelompok, perlu adanya sikap dan perilaku masyarakat yang<br>
dilandasi moral, etika, akhlak yang mulia, dan kepribadian luhur yang<br>
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;<br>
c. Bahwa meningkatnya pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan<br>
pornografi dalam masyarakat dapat mengancam kelestarian tatanan<br>
kehidupan masyarakat yang dilandasi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa;<br>
d. Bahwa Peraturan perundang-undangan yang ada sampai saat ini<br>
belum secara tegas mendefinisikan pornografi sebagai pedoman dalam<br>
upaya penegakan hukum untuk tujuan melestarikan tatanan kehidupan<br>
masyarakat;<br>
e. Bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a, huruf b, huruf c, dan<br>
huruf d diatas, perlu dibentuk Undang-Undang tentang Anti Pornografi;<br>
<br>
Mengingat:&nbsp;<br>
1. Pasal 20 ayat (1), Pasa 21, dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara<br>
Republik Indonesia Tahun 1945;<br>
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia<br>
Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Bangsa;<br>
<br>
Dengan Persetujuan Bersama<br>
<br>
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA<br>
dan<br>
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA<br>
<br>
MEMUTUSKAN :<br>
<br>
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG ANTI PORNOGRAFI<br>
BAB I<br>
KETENTUAN UMUM<br>
<br>
Pasal 1<br>
<br>
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:<br>
Pornografi adalah subtansi dalam media atau alat komunikasi yang<br>
dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan tentang seks dengan cara<br>
mengeksploitasi seks, kecabulan, dan/atau erotika.<br>
Media massa cetak adalah alat atau sarana penyampaian informasi dan<br>
pesan-pesan secara visual kepada masyarakat luas berupa barang-barang<br>
cetakan massal antara lain buku, suratkabar, majalah, dan tabloid.<br>
Media massa elektronik adalah alat atau sarana penyampaian informasi<br>
dan pesan-pesan secara audio dan/atau visual kepada masyarakat luas<br>
antara lain berupa radio, televisi, film, dan yang dipersamakan dengan<br>
film.<br>
Alat komunikasi media adalah sarana penyampaian informasi dan<br>
pesan-pesan secara audio dan/atau visual kepada satu orang dan/atau<br>
seumlah orang tertentu antara lain berupa telepon, surat, pamflet,<br>
leaflet, booklet, selembaran, poster, dan media elektronik baru yang<br>
berbasis komputer seperti internet dan intranet.<br>
Iklan komersial adalah isi media yang mempromosikan sesuatu barang<br>
atau jasa dengan tujuan akhir mencari keuntungan finansial.<br>
Iklan layanan masyarakat adalah isi media yang mempromosikan sesuatu<br>
sebagai bentuk pemberian layanan kepada masyarakat.<br>
Barang pornografi adalah buku, suratkabar, majalah, tabloid dan media<br>
cetak sejenisnya, film, dan/atau yang dipersamakan dengan film,<br>
seperti video, video compact Disc, Digital Video Disc, Compact Disc,<br>
Personal Computer-Computer Disc Read Only Memory, dan kaset, yang<br>
materinya mengandung sifat pornografi.<br>
<br>
Jasa Pornografi adalah segala jenis layanan pornografi yang dapat<br>
diperoleh antara lain melalui saluran telepon, televisi kabel,<br>
internet, dan alat komunikasi elektronik lainnya dengan cara pesanan<br>
atau berlangganan, serta layanan pornografi berupa barang-barang<br>
pornografi yang dapat diperoleh secara langsung dengan cara menyewa.<br>
Membuat adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan memproduksi materi<br>
media massa cetak, media massa elektronik, media media komunikasi<br>
lainnya, dan memproduksi barang-barang pornografi.<br>
Menyebarluaskan adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan mengedarkan<br>
materi media massa cetak, media massa elektronik, media media<br>
komunikasi lainnya, dan mengedarkan komunikasi lainnya, dan<br>
mengedarkan barang-barang yang mengandung sifat pornografi dengan<br>
cara memperdagangkan, memperlihatkan, memperdengarkan, mempertontonkan,<br>
mempertunjukkan, menyiarkan, menempelkan dan/atau menuliskan.<br>
Menggunakan adalah kegiatan atau serangkaian kegiatan memakai materi<br>
media massa cetak, media massa elektronik, media media komunikasi<br>
lainnya, dan memakai barang-barang pornografi.<br>
Badan keagamaan adalah lembaga kemasyarakatan yang berfungsi melakukan<br>
pembinaan Umat Beragama, seperti Majelis Ulama Indonesia, Konferensi<br>
Waligereja Indonesia, Persatuan Gereja Indonesia, Parisadha Hindu<br>
Dharma Indonesia, Wali Umat Budha Indonesia, dan lembaga sejenis yang<br>
diakui sah keberadaannya di Indonesia&nbsp;<br>
Setiap orang adalah orang perseorangan, perusahaan, atau distributor<br>
sebagai kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisir baik berupa<br>
badan hukum maupun bukan badan hukum. Pemerintah adalah Menteri atau<br>
pejabat lain yang ditunjuk oleh Presiden.<br>
<br>
BAB II<br>
ASAS DAN TUJUAN<br>
<br>
Pasal 2<br>
<br>
Pelarangan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan<br>
pornografi berasaskan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha<br>
Esa dengan memperhatikan nilai-nilai  budaya, susila dan moral yang<br>
dianut oleh masyarakat, keadilan, perlindungan hukum, dan kepastian<br>
hukum.<br>
<br>
Pasal 3<br>
<br>
Pelarangan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan<br>
pornografi bertujuan memberikan perlindungan, pembinaan, dan<br>
pendidikan moral dan akhlak masyarakat dengan menjunjung tinggi harkat<br>
dan martabat  manusia dalam rangka membentuk masyarakat yang<br>
berkepribadian luhur, beriman, dan bertaqwa  kepada Tuhan Yang maha<br>
Esa.<br>
<br>
BAB III<br>
PELARANGAN PORNOGRAFI<br>
<br>
Pasal 4<br>
<br>
Setiap orang dilarang membuat, menyebarluaskan, dan menggunakan<br>
pornografi dalam media massa cetak, media massa elektronik, dan alat<br>
komunikasi media.<br>
<br>
Pasal 5<br>
<br>
Setiap orang dilarang dengan sengaja menjadikan diri sebagai model<br>
atau obyek pembuatan pornografi.<br>
<br>
Pasal 6<br>
<br>
Setiap orang dilarang membuat, menyebarluaskan, dan mengunakan jasa<br>
pornografi.<br>
<br>
Pasal 7<br>
<br>
Setiap orang dilarang membuat, menyebarluaskan, dan menggunakan karya<br>
seni yang mengandung sifat pornografi di media massa cetak, media<br>
massa elektronik, atau alat komunikasi media, dan yang berada di<br>
tempat-tempat umum yang bukan dimaksudkan sebagai tempat pertunjukan<br>
karya-karya seni.<br>
BAB IV<br>
PENGECUALIAN PORNOGRAFI<br>
<br>
Pasal 8<br>
<br>
(1) Pembuatan, Penyebarluasan, dan penggunaan pornografi<br>
sebagaimana dimaksud dalam pasal 4, Pasal 6, atau Pasal 7 dikecualikan<br>
untuk tujuan pendidikan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan.<br>
(2) Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi<br>
pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada lembaga<br>
riset atau lembaga pendidikan yang bidang keilmuannya bertujuan untuk<br>
pengembanagn pengetahuan.<br>
<br>
Pasal 9<br>
<br>
(1) Penggunaan barang pornografi dapat dilakukan untuk keperluan pengobatan gangguan kesehatan.<br>
<br>
(2) Penggunaan barang pornografi untuk keperluan gangguan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setelah mendapatkan<br>
rekomendasi dari dokter, rumah sakit dan/atau lembaga kesehatan yang<br>
mendapatkan ijin dari Pemerintah.<br>
<br>
BAB V<br>
PERIZINAN<br>
<br>
Pasal 10<br>
<br>
(1) Pemerintah memberikan izin kepada setiap orang untuk mengimpor dan menyebarluaskan barang pornografi dalam media cetak<br>
dan/atau media elektronik untuk keperluan sebagaimana dimaksud dalam<br>
pasal 8 dan pasal 9.<br>
(2) Setiap orang yang melakukan Penyebarluaskan barang dalam<br>
media cetak dan/atau media elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat<br>
(1) dilakukan denga memenuhi syarat:<br>
a. Penjualan barang dan/atau jasa pornografi hanya dilakukan<br>
oleh badan-badan usaha yang memiliki izin khusus;<br>
b. Penjualan barang dan/atau jasa pornografi secara langsung<br>
hanya dilakukan di tempat-tempat tertentu dengan tanda khusus;<br>
c. Penjualan barang pornografi dilakukan dalam bungkus rapat<br>
dengan kemasan bertanda khusus dan segel tertutup;<br>
d. Barang pornografi yang dijual ditempatkan pada etalase<br>
tersendiri yang letaknya jauh dari jangkauan anak-anak dan remaja<br>
berusia dibawah 18 (delapan belas) tahun;<br>
BAB VI<br>
BADAN ANTI PORNOGRAFI NASIONAL<br>
<br>
Bagian Pertama<br>
Nama, kedudukan, Fungsi, dan Tugas<br>
<br>
Pasal 11<br>
<br>
(1) Untuk pencegahan dan penanggulangan masalah pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi dalam masyarakat dibentuk<br>
Badan Anti Pornografi Nasional, yang selanjutnya disingkat BAPN;<br>
(2) BAPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah lembaga independen yang terlepas dari pengaruh dan kekuasaan Pemerintah serta pihak lain.<br>
<br>
Pasal 12<br>
<br>
(1) BAPN Berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia;<br>
(2) Apabila diperlukan BAPN dapat membentuk perwakilan di Ibu<br>
Kota Provinsi untuk membantu pelaksanaan tugasnya;<br>
(3) Pembentukan perwakilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan keputusan BAPN.<br>
<br>
<br>
Pasal 13<br>
<br>
BAPN mempunyai fungsi memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah serta mewakili kepentingan masyarakat dalam upaya<br>
penanggulangan masalah pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi.<br>
<br>
Pasal 14<br>
<br>
Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, BAPN mempunyai  tugas:<br>
a. memberikan saran dan rekomendasi kepada Pemerintah<br>
dalam pembuatan kebijakan penanggulangan masalah pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi;<br>
b. melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berkaitan dengan pembuatan,<br>
penyebarluasan, dan penggunaan pornografi;<br>
c. memantau dan melakukan penilaian terhadap perkembangan pornografi dalam masyarakat;<br>
d. melakukan advokasi dan edukasi kepada masyarakat dalam menanggulangi masalah pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi;<br>
e. mendorong berkembangnya lembaga swadaya masyarakat yang berfungsi membantu upaya penanggulangan masalah pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi;<br>
f. menerima pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan<br>
masalah pornografi, dan memberikan rekomendasi kepada aparat penegak hukum untuk meninjaklanjuti pengaduan tersebut;<br>
g. menjadi saksi ahli dalam proses pemeriksaan di persidangan;<br>
h. melakukan supervisi terhadap proses penyidikan proses pornografi.<br>
Bagian Kedua<br>
Susunan Organisasi dan Keanggotaan<br>
<br>
Pasal 15<br>
<br>
(1) Anggota BAPN dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melalui uji kepatutan dan kelayakan secara terbuka atas usul masyarakat.<br>
(2) Anggota BAPN secara administrasi ditetapkan oleh Presiden atas usul dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.<br>
Pasal 16<br>
<br>
(1) BAPN terdiri atas seorang Ketua merangkap Anggota, seorang Wakil Ketua merangkap Anggota, serta sekurang-kurangnya 9 (sembilan)<br>
orang Anggota yang mewakili unsure-unsur dalam masyarakat.<br>
(2) Masa jabatan Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BAPN adalah 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.<br>
(3) Ketua dan Wakil Ketua BAPN dipilih dari dan oleh Anggota.<br>
Pasal 17<br>
<br>
(1) Sebelum memangku jabatannya, Anggota BAPN mengucapkan sumpah/janji di hadapan Presiden Republik Indonesia.<br>
(2) Lafal sumpah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbunyi sebagai berikut :<br>
<br>
"Saya bersumpah/berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya, untuk memangku jabatan saya ini langsung atau tidak langsung, dengan<br>
menggunakan nama atau cara apapun juga, tidak memberikan atau menjanjikan barang sesuatu kepada siapapun juga,"<br>
Saya bersumpah/berjanji bahwa saya, untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan ini, tidak sekali-kali akan menerima langsung atau tidak langsung dari siapapun juga suatu janji atau pemberian."<br>
"Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan setia kepada dan akan<br>
mempertahankan serta mengamalkan Pancasila sebagai pandangan hidup<br>
bangsa, dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara<br>
Republik Indonesia Tahun 1945 dan segala Undang-Undang yang berlaku<br>
bagi Negara Republik Indonesia,"<br>
Saya bersumpah/berjanji bahwa saya senantiasa akan menjalankan jabatan saya ini dengan jujur, seksama, dan tidak membeda-bedakan<br>
orang dalam melaksanakan kewajiban saya."<br>
<br>
Pasal 18<br>
<br>
Anggota BAPN terdiri atas unsur<br>
a. perwakilan badan keagamaan;<br>
b. pakar komunikasi;<br>
c. pakar teknologi informasi dan komunikasi;<br>
d. pakar seni dan budaya;<br>
e. pakar hukum pidana; dan<br>
f. pakar sosiologi.<br>
<br>
Pasal 19<br>
<br>
Persyaratan keanggotaan BAPN adalah:<br>
a. warga negara Indonesia;<br>
b. sehat jasmani dan rohani;<br>
c. berkelakuan baik;<br>
d. memiliki pengetahuan tentang pornografi; dan<br>
e. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun.<br>
<br>
Pasal 20<br>
<br>
Keanggotaan BAPN berhenti atau diberhentikan karena:<br>
a. meninggal dunia;<br>
b. mengundurkan diri atas permintaan sendiri;<br>
c. bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia;<br>
d. sakit secara terus menerus;<br>
e. melanggar sumpah/janji;<br>
f. berakhir masa jabatan sebagai anggota; atau<br>
g. dinyatakan bersalah berdasarkan putusan pengadilan yang telah<br>
mempunyai kekuatan hukum tetap, karena melakukan tindak pidana dengan<br>
ancaman hukuman srendah-rendahnya 5 (lima) tahun penjara.<br>
<br>
<br>
Pasal 21<br>
<br>
(1)  BAPN dalam melakukan tugas dan fungsinya dibantu oleh Sekretariat.<br>
(2)  Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh<br>
seorang sekretaris yang diangkat dan diberhentikan oleh BAPN<br>
(3)  Fungsi, tugas, dan tata kerja sekretariat sebagaimana dimaksud<br>
pada ayat (1) diatur dalam keputusan BAPN.<br>
<br>
Pasal 22<br>
<br>
Struktur organisasi dan tata kerja BAPN diatur dengan keputusan BAPN.<br>
<br>
Pasal 23<br>
<br>
Pembiayaan untuk pelaksanaan tugas BAPN dibebankan kepada Anggaran<br>
Pendapatan dan Belanja Negara dan sumber lain yang tidak bertentangan<br>
dengan perturan perundang-Undangan yang berlaku.<br>
<br>
Pasal 24<br>
<br>
BAPN berkewajiban untuk menyampaikan laporan kegiatan kepada DPR dan<br>
Presiden setiap tahun.<br>
<br>
BAB VII<br>
PERAN SERTA MASYARAKAT<br>
<br>
Pasal 25<br>
<br>
(1) Setiap warga negara Indonesia berhak untuk berperan serta dalam<br>
pencegahan dan penanggulangan pornografi berupa :<br>
a. menyampaikan keberatan kepada BAPN terhadap pengedaran barang<br>
dan/atau penyediaan jasa pornografi;<br>
b. melakukan gugatan perwakilan ke pengadilan terhadap<br>
seseorang, sekelompok orang, dan/ atau badan yang diduga melakukan<br>
pengedaran pornografi.<br>
c. Gugatan perwakilan sebagaimana dimaksud pada huruf b<br>
dilakukan melalui lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada masalah<br>
pornografi.<br>
<br>
(2) Setiap warga negara Indonesia berkwajiban untuk :<br>
a. melakukan pembinaan moral, mental spritual, dan akhlak<br>
masyarakat dalam rangka membentuk masyarakat yang berkepribadian<br>
luhur, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;<br>
b. membantu penyelenggaraan kegiatan advokasi dan edukasi dalam<br>
penanggulangan masalah pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan<br>
pornografi;<br>
<br>
(3) Setiap warga negara Indonesia bertanggungjawab untuk melaporkan<br>
kepada pejabat yang berwenang apabila melihat dan/atau mengetahui<br>
adannya penerbitan dan/atau pengedaran pornografi.<br>
<br>
<br>
BAB VIII<br>
PERAN PEMERINTAH<br>
<br>
Pasal 26<br>
<br>
(1) Pemerintah dapat melakukan kerjasama bilateral, regional, dan<br>
multilateral dengan negara lain dalam membatasi penyebarluasan<br>
pornografi sesuai dengan kepentingan bangsa dan negara.<br>
(2) Pemerintah berkewajiban memberikan jaminan hukum dan keamanan<br>
kepada penggugat dan/atau pelapor sebagaimana dimaksud dalam Pasal<br>
25 ayat (1) huruf b dan ayat (3).<br>
BAB IX<br>
PENYIDIKAN, PENUNTUTAN DAN PEMERIKSAAN<br>
<br>
Pasal 27<br>
<br>
Penyidikan, Penuntutan, dan pemeriksaan di muka persidangan terhadap<br>
tindak pidana pornografi berdasarkan peraturan perundang-undangan<br>
yang berlaku.<br>
<br>
<br>
BAB X<br>
KETENTUAN SANKSI<br>
<br>
Bagian Pertama<br>
Sanksi Administratif<br>
<br>
Pasal 28<br>
<br>
a. Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana<br>
dimaksud dalam pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) diancam dengan sanksi<br>
administrative berupa pencabutan ijin usaha<br>
b. Setiap orang yang telah dicabut ijin usahanya sebagaimana<br>
dimaksud pada ayat (1) tidak dapat mengajukan kembali ijin usaha<br>
sejenis.<br>
<br>
Bagian Kedua<br>
Ketentuan Pidana<br>
<br>
Pasal 29<br>
<br>
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana<br>
dimaksud dalam Pasal 4, pasal 5, dan/atau pasal 6, dipidana dengan<br>
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau paling singkat 2 (dua)<br>
tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu<br>
milyar rupiah) dan paling sedikit Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta<br>
rupiah).<br>
(2) Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana<br>
dimaksud dalam pasal 8 ayat (2), dan/atau Pasal 9 ayat (2), dipidana<br>
dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau paling singkat<br>
1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 600.000.000,-<br>
(enam ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp. 250.000.000,-<br>
(dua ratus lima puluh juta rupiah).<br>
<br>
Pasal 30<br>
<br>
(1) Setiap orang yang tidak memiliki izin untuk mengimpor dan<br>
menyebarluasan barang pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16<br>
ayat (1) dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan paling<br>
singkat 4 (empat) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) dan paling sedikit Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).<br>
<br>
(2) Setiap orang yang melakukan penyebarluasan barang pornografi<br>
tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2)<br>
dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan paling<br>
singkat 4 (empat) tahun dan pidana denda paling banyak<br>
Rp. 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) dan paling sedikit<br>
Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).<br>
<br>
Pasal 31<br>
<br>
Setiap orang yang dengan sengaja menghalang-halangi dan/atau<br>
mempersulit penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di muka<br>
persidangan perkara tindak pidana pornografi dipidana dengan pidana<br>
penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan paling singkat 1 (satu) tahun<br>
dan pidana denda paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta<br>
rupiah) dan paling sedikit Rp. 100.000.000,- (seratus juta Rupiah)<br>
<br>
Pasal 32<br>
<br>
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan permufakatan jahat untuk<br>
melakukan tindak pidana pornografi dipidana dengan pidana penjara<br>
paling lama 2 (dua) tahun dan paling singkat 6 (enam) bulan dan<br>
pidana denda paling banyak Rp. 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah)<br>
dan paling sedikit Rp.1.000.000.000,- (satu milyar rupiah)<br>
<br>
<br>
BAB XI<br>
PEMUSNAHAN<br>
<br>
Pasal 33<br>
<br>
(1) Pemusnahan barang pornografi dilakukan terhadap:<br>
a. hasil penyitaan dan perampasan barang yang tidak berijin<br>
b. putusan pengadilan<br>
(2) Pemusnahan barang pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)<br>
dilakukan oleh penuntut umum bekerja sama dengan BAPN.<br>
(3)   Pemusnahan barang pornografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)<br>
dilakukan dengan membuat berita acara yang sekurang-kurangnya memuat:<br>
a. nama media apabila barang disebarluaskan melalui media massa cetak<br>
dan/atau media massa elektronik;<br>
b. nama dan jenis barang yang dimusnakan;<br>
c. hari, tanggal, bulan dan tahun pemusnahan;<br>
d. keterangan mengenai pemilik atau yang mengusai barang yang dmusnakan; dan<br>
e. tanda tangan dan identitas lengkap para pelaksana dan pejabat yang<br>
melaksanakan dan menyaksikan pemusnahan.<br>
<br>
KETENTUAN PERALIHAN<br>
<br>
Pasal 34<br>
<br>
Pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini semua peraturan<br>
perundang-undangan yang mengatur atau berkaitan dengan pornografi<br>
dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan<br>
Undang-undang ini.<br>
<br>
Pasal 35<br>
<br>
BAPN dibentuk dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun sejak<br>
Undang-Undang ini mulai berlaku.<br>
<br>
BAB XIII<br>
PENUTUP<br>
<br>
Pasal 36<br>
<br>
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.<br>
<br>
Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan<br>
undang-undang ini dengan menempatkanya dalam Lembaga Negara Republik<br>
Indonesia.<br>
<br>
Disahkan di Jakarta<br>
Pada tanggal,........<br>
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,<br>
<br>
<br>
........................<br>
<br>
Diundang di Jakarta,................<br>
Pada tanggal,...........<br>
<br>
MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,<br>
<br>
<br>
.........................<br>
<br>
LEMBAGA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN........ NOMOR .......<br>
<br>
PENJELASAN<br>
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA<br>
NOMOR ....... TAHUN .........<br>
TENTANG<br>
ANTI PORNOGRAFI<br>
<br>
<br>
1. UMUM<br>
<br>
Negara Indonesia adalah negara yang menganut faham Pancasila.<br>
Keyakinan dan kepercayaan ini secara tegas dinyatakan dalam Pembukaan<br>
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada Alinea<br>
III dan IV Sebagai penganut faham hidup berketuhanan, bangsa indonesia<br>
meyakini bahwa Tuhan melarang sikap dan tindakan-tindakan a-susila,<br>
dan a-moral dalam kehidupan seks, seperti pelecehan, perselingkuhan,<br>
kekerasan seks, penyimpangan seks, dan penyebarluasan gagasan-gagasan<br>
tentang seks, karena dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat. Bagi<br>
masyarakat beragama tindakan-tindakan memperlihatkan, mempertontonkan,<br>
mempertunjukan, dan/atau memperdengarkan materi seks dianggap<br>
sebagai suatu ancaman terhadap kelestarian tatanan kehidupan<br>
masyarakat karena ikut berperab dalam pembentukan sikap dan tindakan<br>
a-susila dan a-moral semacam itu. Tindakan-tindakan semacam itu juga<br>
dianggap menunjukan sikap menentang kekuasaan Tuhan.<br>
<br>
Pada era  kehidupan modern di tengah globalisasi informasi seperti<br>
sekarang kelestarian tatanan masyarakat Indonesianmenghadapi ancaman<br>
yang serius. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan<br>
komunikasi saat ini terjadi peningkatan penyebarluasan gagasan-gagasan<br>
tentang seks berupa pornografi dalam berbagai bentuknya melalui media<br>
massa dan alat komunikasi lainnya. Kecenderungan ini telah menimbulkan<br>
keresahan dan kekuatiran masyarakat beragama akan hancurnya<br>
sendi-sendi moral dan etika yang sangat diperlukan dalam pemiliharaan<br>
dan pelestarian tatanan kehidupan masyarakat.<br>
<br>
Sebagai penganut keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa,<br>
masyarakat Indonesia memiliki hak untuk melindungi dan memiliki<br>
kewajiban berperan serta mencegah terjadinya kerusakan tatanan dan<br>
disintegrasi yang disebabkan oleh sikap dan tindakan-tindakan<br>
a-sosial, a-susila, dan a-moral yang dilakukan oleh individu atau<br>
sekelompok individu yang menyebarluaskan gagasan-gagasan tentang seks<br>
didepan umum, atau dilingkungan ranah pablik. Dalam hal ini<br>
penyelenggara negara memiliki hak dan sekaligus kewajiban untuk<br>
melarang pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi oleh<br>
individu atau sekelompok individu yang tidak menghormati hak<br>
masyarakat umum yang lebih luas untuk melindungi diri dari dampak<br>
pornografi. Oleh karenanya agar pemenuhan hak individu dan sekelompok<br>
individu tidak melanggar pemenuhan hak masyarakat umum untuk memiliki<br>
kehidupan yang tertib dan aman, maka pembuatan, peyebarluasan, dan<br>
penggunaan pornografi harus diatur dengan undang-undang.<br>
<br>
Pengaturan pornografi dalam Undang-Undang ini pada dasarnya melarang<br>
semua bentuk aktivitas pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan<br>
pornografi sebagaimana diajarkan dalam faham ketuhanan Yang Maha Esa.<br>
Larangan tersebut lebih keras diarahkan pada pembuatan pornografi<br>
oleh perseorangan atau korperasi di dalam negeri agar Undang-Undang<br>
ini befungsi secara efektif dalam membantu pemerintah dalam membatasi<br>
pornografi serta membantu lembaga-lembaga keagamaan dan masyarakat<br>
dalam memecahkan perseolan-persoalan pornografi yang dihadapi<br>
sekarang ini. Undang-Undang ini mengakui peran penting lembaga-lembaga<br>
keagamaan dalam pembinaan moral dan moralitas masyarakat. Oleh<br>
karenanya, pengaturan dalam Undang-Undang ini dimaksudkan untuk<br>
mengambil alih peran lembaga-lembaga keagamaan, tetapi diarahkan pada<br>
upaya menegakkan kesepakatan bersama antar umat beragama mengenai<br>
pornografi, dalam rangka memilihara sistem nilai budaya masyarakat<br>
yang dilandasi kepercayaan dan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa.<br>
Untuk tujuan itu maka upaya mengulanggi masalah pembuatan,<br>
penyebarluasan, dan penggunaan pornografi yang diatur dalam<br>
Undang-Undang ini melibatkan peran serta masyarakat, lembaga-lembaga<br>
keagamaan, dan pemerintah.<br>
<br>
Undang-undang ini juga mengakui peran penting karya-karya seni dan<br>
para seniman pembuatnya bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat,<br>
dan oleh karenanya keberadaan karya-karya seni serius atau seni murni<br>
(high-art) dan karya-karya seni yang berorientasi pada pasar atau<br>
seni populer (popular-art) tetap dihormati dan diharhgai sebagaimana<br>
mestinya. Dalam Undang-Undang ini pornografi dibedakan dari seni.<br>
Nilai yang terkandung dalam pornografi dianggap lebih bersifat<br>
instrumental yakni berperan sebagai sarana atau alat untuk mencapai<br>
sesuatu yang lain, atau bersifat ekstrinsik yakni bertujuan lain di<br>
luar dirinya. Sebaliknya, nilai yang terkandung dalam seni dianggap<br>
lebih bersifat intrinsik, hanya berkaitan dengan  pengalaman yang<br>
dilandasi moralitas yang baik, bernilai dalam dirinya sendiri, atau<br>
sebagai tujuan akhir. Karya seni dianggap memiliki keunikan karena<br>
tidak mungkin diproduksi dan direproduksi dengan kualitas yang persis<br>
sama. Sebaliknya, pornografi dianggap tidak memiliki keunikan karena<br>
bisa diproduksi dan direproduksi sebanyak mungkin atau secara massal<br>
dengan kualitas yang persis sama atau paling tidak hampir sama.<br>
II. PASAL DEMI PASAL<br>
<br>
Pasal 1<br>
Cukup Jelas<br>
<br>
Pasal 2<br>
Dalam pengertian ini, penyebarluasan gagasan-gagasan tentang seks,<br>
kecabulan dan/atau erotika yang dianggap bertentangan dengan<br>
nilai-nilai agama, budaya, susila dan moral yang dianut oleh<br>
masyarakat. Yang dimaksud kecabulan adalah materi yang memperlihatkan<br>
ketelanjangan tubuh aktivitas hubungan seks, tindak kekerasan seks<br>
seperti perkosaan, hubungan seks yang disertai tindakan sadisme, dan<br>
aktivitas hubungan seks yang tidak mengandung unsur kekerasan namun<br>
merendahkan nilai sakral hubungan seks.<br>
Yang dimaksud erotika adalah materi yang mengandung sifat atau tema-tema seksual.<br>
<br>
Pasal 3<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 4&nbsp;<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 5&nbsp;<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 6<br>
Lembaga penyelenggara jasa pornografi yang melalui internet harus<br>
diperlengkapi dengan sistem filter.<br>
<br>
Pasal 7<br>
Karya seni adalah hasil ciptaan manusia yang memiliki nilai estetika<br>
yang tinggi, dan mengutamakan nilai-nilai intrinsik yaknin yang<br>
bertujuan pada dirinya sendiri. Sebuah karya yang mengutamakan<br>
nilai-nilai ekstrinsik yakni yang bertujuan lain di luar dirinya<br>
sendiri, seperti tujuan promosi, meningkatkan pernjualan, dan<br>
membangkitkan nafsu birahi, tidak dikategorikan sebagai karya seni.<br>
<br>
Pasal 8<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 9<br>
Ayat (1)<br>
Yang dimaksud dengan gangguan kesehatan dalam pasal ini  adalah<br>
gangguan fungsi seksual dan alat reproduksi, yang pengobatannya<br>
memerlukan alat bantu barang pornografi.<br>
<br>
Ayat (2)<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 10<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 11<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 12<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 13<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 14<br>
Huruf a&nbsp;<br>
Cukup jelas<br>
Huruf b<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Huruf c<br>
Pemantauan dan penilaian dilakukan terhadap pembuatan, penyebarluasan,<br>
dan penggunaan pornografi dalam media massa cetak, media massa<br>
elektronik, dan alat komunikasi medio.<br>
<br>
Huruf d<br>
Masukan dan saran-saran kepada Pemerintah mengenai layak atau<br>
tidaknya suatu pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan materi dalam<br>
media atau alat komunikasi, dapat disampaikan melalui media massa.<br>
<br>
Huruf e<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Huruf f<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Huruf g&nbsp;<br>
Cukup jelas<br>
Huruf h<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 15<br>
Ayat (1)<br>
Yang dimaksud dengan masyarakat adalah lembaga swadaya masyarakat<br>
yang memiliki kepedulian terhadap masalah pornografi.<br>
<br>
Ayat (2)<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 16<br>
Ayat (1)<br>
Jumlah wakil setiap unsur tidak harus sama<br>
Ayat (2)&nbsp;<br>
Cukup jelas<br>
Ayat (3)<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 17<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 18<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 19<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 20<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 21<br>
Cukup jelas<br>
Pasal 22<br>
Cukup jelas<br>
Pasal 23<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 24<br>
Cukup jelas<br>
Pasal 25<br>
<br>
Ayat (1)&nbsp;<br>
Cukup jelas<br>
Ayat (2)<br>
<br>
Huruf  a<br>
Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam pasal ini meliputi upaya<br>
meningkatkan moral dan akhlak bangsa melalui pendidikan keagamaan,<br>
moral, etika dan budi pekerti  pada lembaga-lembaga pendidikan dari<br>
tingkat Sekolah Taman kanak-kanak sampai dengan tingkat Perguruan<br>
Tinggi; dan /atau mencegah pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan<br>
pornografi.<br>
<br>
Huruf  b<br>
Yang dimaksud dengan kegiatan advokasi adalah kegiatan pemberian<br>
bantuan hukum dalam penanggulangan masalah pembuatan, penyebarluasan,<br>
dan penggunaan porngrafi. Yang dimaksud dengan kegiatan edukasi,<br>
adalah kegiatan pemberian bimbingan, konsultasi, penerangan, dan<br>
penyuluhan dalam penanggulangan masalah pembuatan, penyebarluasan, dan<br>
penggunaan pornografi.<br>
<br>
Ayat (3)<br>
Cukup jelas<br>
Pasal  26<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal  27<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 28<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal  29<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 30<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 31<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 32<br>
Cukup jelas<br>
Pasal 33<br>
Cukup jelas<br>
Pasal 34<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 35<br>
Cukup jelas<br>
<br>
Pasal 36<br>
Cukup jelas<br>
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR .....<br>
Disahkan di Jakarta<br>
Pada tanggal .....2002<br>
<br>
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA<br>
<br>
xxx<br>
<br>
Diundangkan di Jakarta<br>
Pada tanggal ...... 2002<br>
<br>
<br>
SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA<br>
<br>
xxx<br>
<br>
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002</p>


<html>

<head>
<meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=windows-1252">
<meta name="GENERATOR" content="Microsoft FrontPage 4.0">
<meta name="ProgId" content="FrontPage.Editor.Document">
<title>New Page 1</title>
</head>

<body>

<p>UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA<br>
					   NOMOR 6 TAHUN 1983<br>
<br>
					           TENTANG<br>
<br>
			       KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN<br>
<br>
				DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA<br>
<br>
				       PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,<br>
<br>
Menimbang :<br>
<br>
a.	bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang&nbsp;<br>
	Dasar 1945 yang menjunjung tinggi hak dan kewajiban warga negara, karena itu menempatkan&nbsp;<br>
	perpajakan sebagai salah satu perwujudan kewajiban kenegaraan bagi para warganya yang&nbsp;<br>
	merupakan sarana peran serta dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional;<br>
<br>
b.	bahwa sistem perpajakan yang merupakan landasan pelaksanaan pemungutan pajak negara yang&nbsp;<br>
	selama ini berlaku, tidak sesuai lagi dengan tingkat kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Indonesia&nbsp;<br>
	baik dalam segi kegotongroyongan nasional maupun dalam laju pembangunan nasional yang telah&nbsp;<br>
	dicapai;<br>
<br>
c.	bahwa sistem perpajakan yang tertuang di dalam ketentuan-ketentuan perpajakan yang berlaku&nbsp;<br>
	selama ini belum dapat menggerakkan peran serta semua lapisan subyek pajak yang besar&nbsp;<br>
	peranannya dalam meningkatkan penerimaan dalam negeri dan sangat diperlukan guna mewujudkan&nbsp;<br>
	kelangsungan dan peningkatan pembangunan nasional;<br>
<br>
d.	bahwa oleh karena itu, sesuai pula dengan amanat yang terkandung dalam Garis-garis Besar Haluan&nbsp;<br>
	Negara (Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1983), perlu&nbsp;<br>
	diadakan pembaharuan sistem perpajakan yang berlaku dengan sistem yang memberikan&nbsp;<br>
	kepercayaan kepada subyek pajak untuk melaksanakan kewajiban serta memenuhi haknya di bidang&nbsp;<br>
	perpajakan, sehingga dapat mewujudkan perluasan dan peningkatan kesadaran kewajiban perpajakan&nbsp;<br>
	serta meratakan pendapatan masyarakat;<br>
<br>
e.	bahwa untuk dapat mencapai maksud tersebut di atas, perlu diadakan pembaharuan dan penggantian&nbsp;<br>
	peraturan perundang-undangan perpajakan yang selama ini berlaku;<br>
<br>
Mengingat :<br>
<br>
1.	Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 23 ayat (2), Undang-Undang Dasar 1945;<br>
<br>
2.	Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1983 tentang Garis-<br>
	garis Besar Haluan Negara;<br>
<br>
3.	Regeling van het Beroep in Belastingszaken (Staatsblad Tahun 1927 Nomor 29) sebagaimana telah&nbsp;<br>
	beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1959 (Lembaran Negara Tahun&nbsp;<br>
	1959 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1748);<br>
<br>
4.	Undang-undang Nomor 19 Tahun 1959 tentang penagihan Pajak Negara dengan Surat Paksa&nbsp;<br>
	(Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1850);<br>
<br>
5.	Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981&nbsp;<br>
	Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);<br>
<br>
					       MEMUTUSKAN :<br>
<br>
Menetapkan :<br>
<br>
UNDANG-UNDANG TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN.<br>
<br>
<br>
						BAB I<br>
					  KETENTUAN UMUM<br>
<br>
						Pasal 1<br>
<br>
Yang dimaksud dalam undang-undang ini dengan :<br>
<br>
a.	Wajib Pajak adalah orang atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan&nbsp;<br>
	perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan;<br>
<br>
b.	Badan adalah perseroan terbatas, perseroan komanditer, badan usaha milik Negara atau Daerah&nbsp;<br>
	dengan nama dan dalam bentuk apapun, persekutuan, perseroan atau perkumpulan lainnya, firma,&nbsp;<br>
	kongsi, perkumpulan koperasi, yayasan atau lembaga, dan bentuk usaha tetap;<br>
<br>
c.	Masa Pajak adalah jangka waktu tertentu yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung jumlah&nbsp;<br>
	pajak yang terhutang;<br>
<br>
d.	Tahun Pajak adalah jangka waktu satu tahun takwim atau satu tahun buku;<br>
<br>
e.	Bagian Tahun Pajak adalah bagian dari jangka waktu satu Tahun Pajak;<br>
<br>
f.	Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan&nbsp;<br>
	dan pembayaran pajak yang terhutang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan;<br>
<br>
g.	Surat Pemberitahuan Masa adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk memberitahukan&nbsp;<br>
	pajak yang terhutang dalam suatu masa pajak atau pada suatu saat;<br>
<br>
h.	Surat Pemberitahuan Tahunan adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk memberitahukan&nbsp;<br>
	pajak yang terhutang dalam suatu tahun pajak;<br>
<br>
i.	Surat Setoran Pajak adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melakukan pembayaran&nbsp;<br>
	pajak yang terhutang di Kas Negara atau di tempat pembayaran lainnya yang ditunjuk oleh Menteri&nbsp;<br>
	Keuangan, dan/atau untuk melaporkan ke Direktorat Jenderal pajak;<br>
<br>
j.	Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi berupa bunga&nbsp;<br>
	dan denda administrasi;<br>
<br>
k.	Surat Ketetapan Pajak adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang&nbsp;<br>
	terhutang, jumlah pengurangan pembayaran pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak,&nbsp;<br>
	besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar;<br>
<br>
l.	Surat Ketetapan Pajak Tambahan adalah surat keputusan yang menambah jumlah pajak yang telah&nbsp;<br>
	ditetapkan;<br>
<br>
m.	Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak adalah surat keputusan yang menentukan&nbsp;<br>
	pengembalian kelebihan pembayaran jumlah pajak yang telah dibayar dan/atau dipotong dan/atau&nbsp;<br>
	dipungut, karena jumlah pajak yang telah dibayar dan/atau dipotong dan/atau dipungut lebih besar&nbsp;<br>
	dari pajak yang terhutang;<br>
<br>
n.	Surat Pemberitaan adalah surat yang berisi pemberitahuan kepada Wajib Pajak, bahwa jumlah pajak&nbsp;<br>
	yang terhutang sama besarnya dengan jumlah pajak yang sudah dibayar, dan/atau dipotong, dan/atau&nbsp;<br>
	dipungut;<br>
<br>
o.	Pajak yang terhutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam masa pajak, dalam&nbsp;<br>
	tahun pajak atau dalam bagian tahun pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan&nbsp;<br>
	perpajakan;<br>
<br>
p.	Surat Paksa adalah surat perintah membayar pajak dan tagihan yang berkaitan dengan pajak, sesuai&nbsp;<br>
	dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 1959 tentang Penagihan Pajak Negara dengan Surat Paksa&nbsp;<br>
	(Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1850);<br>
<br>
q.	Kredit Pajak adalah jumlah pembayaran pajak yang dibayar oleh Wajib Pajak sendiri, setelah ditambah&nbsp;<br>
	dengan pajak yang dipotong atau dipungut oleh pihak lain dan dikurangkan dari seluruh pajak yang&nbsp;<br>
	terhutang termasuk apabila ada jumlah pajak atas penghasilan yang terhutang di luar negeri;<br>
<br>
r.	Pekerjaan Bebas adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang yang mempunyai keahlian khusus&nbsp;<br>
	sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja;<br>
<br>
s.	Tindakan Pemeriksaan adalah tindakan yang dilakukan oleh petugas perpajakan dalam rangka&nbsp;<br>
	melaksanakan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak, untuk mencari bahan-bahan guna penghitungan&nbsp;<br>
	jumlah pajak yang terhutang dan jumlah pajak yang harus dibayar.<br>
<br>
<br>
						BAB II&nbsp;<br>
<br>
		          NOMOR POKOK WAJIB PAJAK, SURAT PEMBERITAHUAN,<br>
				DAN TATA CARA PEMBAYARAN PAJAK<br>
<br>
						Pasal 2<br>
<br>
Setiap Wajib Pajak wajib mendaftarkan dirinya pada Direktorat Jenderal Pajak dan kepadanya diberikan Nomor&nbsp;<br>
Pokok Wajib Pajak.<br>
<br>
<br>
						Pasal 3<br>
<br>
(1)	Setiap Wajib Pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan, menandatangani, dan menyampaikannya ke&nbsp;<br>
	Direktorat Jenderal Pajak dalam wilayah Wajib Pajak bertempat tinggal atau berkedudukan.<br>
<br>
(2)	Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus mengambil sendiri Surat Pemberitahuan di&nbsp;<br>
	tempat yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak.<br>
<br>
(3)	Batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan adalah :<br>
	a.	Untuk Surat Pemberitahuan Masa, selambat-lambatnya dua puluh hari setelah akhir Masa&nbsp;<br>
		Pajak;<br>
	b.	Untuk Surat Pemberitahuan Tahunan, selambat-lambatnya tiga bulan setelah akhir Tahun&nbsp;<br>
		Pajak.<br>
<br>
(4)	Direktur Jenderal Pajak atas permohonan wajib Pajak dapat memperpanjang jangka waktu&nbsp;<br>
	penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf b.<br>
<br>
(5)	Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) diajukan secara tertulis, disertai surat pernyataan&nbsp;<br>
	mengenai penghitungan sementara pajak yang terhutang dalam satu tahun pajak dan bukti pelunasan&nbsp;<br>
	kekurangan pembayaran pajak yang terhutang.<br>
<br>
(6)	Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilengkapi dengan lampiran-<br>
	lampiran yang diperlukan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam ketentuan peraturan&nbsp;<br>
	perundang-undangan perpajakan yang bersangkutan.<br>
<br>
<br>
						Pasal 4<br>
<br>
(1)	Wajib Pajak wajib mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap, jelas, dan&nbsp;<br>
	menandatanganinya.<br>
<br>
(2)	Dalam hal wajib Pajak adalah Badan, Surat Pemberitahuan harus ditanda tangani oleh pengurus atau&nbsp;<br>
	direksi.<br>
<br>
(3)	Dalam hal Surat Pemberitahuan diisi dan ditandatangani oleh orang lain bukan Wajib Pajak, harus&nbsp;<br>
	dilampiri surat kuasa khusus.<br>
<br>
(4)	Pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan oleh Wajib Pajak yang wajib melakukan&nbsp;<br>
	pembukuan harus dilengkapi dengan laporan keuangan berupa neraca dan perhitungan rugi laba serta&nbsp;<br>
	keterangan-keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya penghasilan kena pajak.<br>
<br>
<br>
						Pasal 5<br>
<br>
Untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan, Direktur Jenderal Pajak dalam hal-hal tertentu dapat menentukan&nbsp;<br>
tempat lain bukan tempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1).<br>
<br>
<br>
						Pasal 6<br>
<br>
(1)	Surat Pemberitahuan yang disampaikan langsung oleh Wajib Pajak ke Direktorat Jenderal Pajak harus&nbsp;<br>
	diberi tanggal penerimaan oleh pejabat yang ditunjuk untuk itu, sedangkan untuk Surat Pemberitahuan&nbsp;<br>
	Tahunan harus diberikan juga bukti penerimaan.<br>
<br>
(2)	Pengiriman Surat Pemberitahuan melalui Kantor Pos dan Giro harus dilakukan secara tercatat, dan&nbsp;<br>
	tanda bukti serta tanggal pengiriman dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal penerimaan.<br>
<br>
<br>
						Pasal 7<br>
<br>
Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan atau disampaikan tidak sesuai dengan batas waktu&nbsp;<br>
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3), dikenakan sanksi berupa denda administrasi sebesar&nbsp;<br>
Rp 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah).<br>
<br>
<br>
						Pasal 8<br>
<br>
(1)	Wajib Pajak dapat membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan dengan menyampaikan pernyataan&nbsp;<br>
	tertulis, sepanjang Direktur Jenderal Pajak belum mulai melakukan tindakan pemeriksaan.<br>
<br>
(2)	Dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan yang mengakibatkan hutang pajak&nbsp;<br>
	menjadi lebih besar, maka kepadanya dikenakan sanksi berupa bunga sebesar 2% (dua persen)&nbsp;<br>
	sebulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung mulai saat penyampaian Surat Pemberitahuan&nbsp;<br>
	berakhir sampai dengan tanggal pembayaran karena pembetulan Surat Pemberitahuan itu.<br>
<br>
(3)	Sekalipun telah dilakukan tindakan pemeriksaan, tetapi sepanjang belum dilakukan tindakan&nbsp;<br>
	penyidikan mengenai adanya ketidakbenaran yang dilakukan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud&nbsp;<br>
	dalam Pasal 38, terhadap ketidakbenaran perbuatan Wajib Pajak tersebut tidak akan dilakukan&nbsp;<br>
	penyidikan, apabila Wajib Pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran&nbsp;<br>
	perbuatannya tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang&nbsp;<br>
	sebenarnya terhutang beserta denda administrasi sebesar dua kali jumlah pajak yang kurang dibayar.<br>
<br>
<br>
						Pasal 9<br>
<br>
(1)	Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terhutang&nbsp;<br>
	untuk suatu saat atau masa pajak bagi masing-masing jenis pajak, selambat-lambatnya lima belas hari&nbsp;<br>
	setelah saat terhutangnya pajak atau masa pajak berakhir.<br>
<br>
(2)	Kekurangan pembayaran pajak yang terhutang berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan harus&nbsp;<br>
	dibayar lunas dalam jangka waktu tiga bulan setelah Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak berakhir,&nbsp;<br>
	sebelum Surat Pemberitahuan itu disampaikan.<br>
<br>
(3)	Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak, atau Surat Ketetapan Pajak Tambahan harus dilunasi&nbsp;<br>
	dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal diterbitkan.<br>
<br>
(4)	Direktur Jenderal Pajak atas permohonan Wajib Pajak dapat memberikan persetujuan kepada Wajib&nbsp;<br>
	Pajak untuk mengangsur atau memberikan penundaan pembayaran pajak.<br>
<br>
<br>
						Pasal 10<br>
<br>
(1)	Wajib Pajak wajib membayar atau menyetor pajak yang terhutang di Kas Negara atau di tempat&nbsp;<br>
	pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.<br>
<br>
(2)	Tata cara pembayaran, penyetoran pajak, dan pelaporannya serta tata cara mengangsur dan menunda&nbsp;<br>
	pembayaran pajak diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan.<br>
<br>
<br>
						Pasal 11<br>
<br>
(1)	Atas permohonan Wajib Pajak, kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17&nbsp;<br>
	ayat (1) huruf a dikembalikan, atau apabila ternyata Wajib Pajak mempunyai hutang pajak lainnya,&nbsp;<br>
	langsung dapat diperhitungkan untuk melunasi dahulu pajak yang terhutang.<br>
<br>
(2)	Pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam&nbsp;<br>
	jangka waktu satu bulan setelah Surat Keputusan kelebihan Pembayaran Pajak sebagaimana&nbsp;<br>
	dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a ditetapkan.<br>
<br>
(3)	Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah jangka waktu satu bulan,&nbsp;<br>
	Pemerintah memberikan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan atas kelambatan pembayaran&nbsp;<br>
	kelebihan pembayaran pajak, dihitung dari saat berlakunya batas waktu sebagaimana dimaksud dalam&nbsp;<br>
	ayat (2) sampai dengan saat dilakukan pembayaran kelebihan.<br>
<br>
(4)	Tata cara perhitungan dan pengembalian kelebihan pembayaran pajak diatur lebih lanjut oleh Menteri&nbsp;<br>
	Keuangan.<br>
<br>
<br>
						BAB III<br>
				PENETAPAN DAN KETETAPAN PAJAK<br>
<br>
						Pasal 12<br>
<br>
Setiap Wajib Pajak wajib membayar pajak yang terhutang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-<br>
undangan perpajakan, dengan tidak menggantungkan pada adanya Surat Ketetapan Pajak.<br>
<br>
<br>
						Pasal 13<br>
<br>
(1)	Dalam jangka waktu lima tahun sesudah saat terhutangnya pajak, atau berakhirnya Masa Pajak,&nbsp;<br>
	Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat mengeluarkan Surat Ketetapan&nbsp;<br>
	Pajak dalam hal-hal sebagai berikut :<br>
<br>
	a.	apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain ternyata jumlah pajak yang&nbsp;<br>
		terhutang kurang atau tidak dibayar;<br>
<br>
  	b.	apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud&nbsp;<br>
		dalam Pasal 3 ayat (3) dan setelah ditegor secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya&nbsp;<br>
		sebagaimana ditentukan dalam Surat Tegoran;<br>
<br>
  	c.	apabila berdasarkan hasil pemeriksaan mengenai Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa&nbsp;<br>
		dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih&nbsp;<br>
		lebih pajak, tidak seharusnya dikenakan tarif 0% (nol persen), atau tidak seharusnya diberikan&nbsp;<br>
		pengembalian pajak;<br>
<br>
  	d.	apabila kewajiban tidak dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dan Pasal 29,&nbsp;<br>
		sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terhutang.<br>
<br>
(2)	Jumlah kekurangan pajak yang terhutang dalam Surat Ketetapan Pajak sebagaimana dimaksud dalam&nbsp;<br>
	ayat (1) huruf a ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan&nbsp;<br>
	untuk selama-lamanya dua puluh empat bulan, dihitung mulai saat terhutangnya pajak atau&nbsp;<br>
	berakhirnya Masa Pajak; Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya Surat&nbsp;<br>
	Ketetapan Pajak.<br>
<br>
(3)	Jumlah pajak dalam Surat Ketetapan Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, huruf c,&nbsp;<br>
	dan huruf d ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar :<br>
<br>
  	a.	50% (lima puluh persen) dari Pajak Penghasilan yang kurang atau tidak dibayar dalam satu&nbsp;<br>
		Tahun Pajak;<br>
<br>
 	b.	100% (seratus persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dipotong, tidak atau&nbsp;<br>
		kurang dipungut, tidak atau kurang disetorkan, dan dipotong atau dipungut tetapi tidak atau&nbsp;<br>
		kurang disetorkan;<br>
<br>
  	c.	100% (seratus persen) dari Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan&nbsp;<br>
		atas Barang Mewah yang tidak atau kurang dibayar.<br>
<br>
(4)	Jumlah Pajak Penghasilan yang dipotong dan dipungut oleh pihak ketiga untuk satu Tahun Pajak,&nbsp;<br>
	jumlah Pajak Penghasilan yang dibayar sendiri, pajak yang ditagih dalam Surat Tagihan Pajak untuk&nbsp;<br>
	Tahun Pajak tersebut, serta pajak atas penghasilan yang dibayar atau terhutang di luar negeri untuk&nbsp;<br>
	Tahun Pajak yang bersangkutan, dikreditkan dari jumlah Pajak Penghasilan yang terhutang dalam&nbsp;<br>
	Surat Ketetapan Pajak.<br>
<br>
(5)	Sanksi administrasi berupa bunga, denda administrasi, dan kenaikan, tidak dapat dikreditkan dari&nbsp;<br>
	jumlah pajak yang terhutang.<br>
<br>
(6)	Besarnya pajak yang terhutang dalam suatu Tahun Pajak yang diberitahukan oleh Wajib Pajak dalam&nbsp;<br>
	Surat Pemberitahuan Tahunan, menjadi pasti menurut ketentuan peraturan perundang-undangan&nbsp;<br>
	perpajakan, apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak diterbitkan Surat&nbsp;<br>
	Ketetapan Pajak.<br>
<br>
(7)	Apabila jangka waktu lima tahun sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) telah lewat, Surat Ketetapan&nbsp;<br>
	Pajak tetap dapat diterbitkan dalam hal Wajib Pajak setelah jangka waktu lima tahun tersebut dipidana,&nbsp;<br>
	karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan mengenai pajak yang&nbsp;<br>
	penagihannya telah lewat waktu, berdasarkan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan&nbsp;<br>
	hukum tetap.<br>
<br>
<br>
						Pasal 14<br>
<br>
(1)	Surat Tagihan Pajak dikeluarkan apabila :<br>
   	a.	pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar;<br>
   	b.	Wajib Pajak dikenakan sanksi administrasi berupa denda administrasi dan/atau bunga;<br>
  	c.	dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai&nbsp;<br>
		akibat salah tulis dan/atau salah hitung.<br>
<br>
(2)	Surat Tagihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mempunyai kekuatan hukum yang sama&nbsp;<br>
	dengan Surat Ketetapan Pajak.<br>
<br>
<br>
						Pasal 15<br>
<br>
(1)	Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Tambahan dalam jangka waktu&nbsp;<br>
	lima tahun sesudah saat Pajak terhutang, berakhirnya masa pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun&nbsp;<br>
	Pajak, apabila diketemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang&nbsp;<br>
	menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terhutang.<br>
<br>
(2)	Jumlah kekurangan pajak yang terhutang dalam Surat Ketetapan Pajak Tambahan, ditambah dengan&nbsp;<br>
	sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak&nbsp;<br>
	tersebut.<br>
<br>
(3)	Kenaikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak dikenakan, apabila Surat Ketetapan Pajak&nbsp;<br>
	Tambahan itu diterbitkan berdasarkan keterangan tertulis oleh Wajib Pajak atas kehendak sendiri,&nbsp;<br>
	sepanjang Direktur Jenderal Pajak belum mulai melakukan tindakan pemeriksaan.<br>
<br>
(4)	Apabila jangka waktu lima tahun sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) telah lewat, Surat Ketetapan&nbsp;<br>
	Pajak Tambahan tetap dapat diterbitkan dalam hal Wajib Pajak setelah jangka waktu lima tahun&nbsp;<br>
	tersebut dipidana, karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan mengenai&nbsp;<br>
	pajak yang penagihannya telah lewat waktu, berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh&nbsp;<br>
	kekuatan hukum tetap.<br>
<br>
<br>
						Pasal 16<br>
<br>
Kesalahan tulis, kesalahan hitung, atau kekeliruan dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan&nbsp;<br>
perpajakan yang terdapat dalam surat ketetapan pajak, dapat dibetulkan oleh Direktur Jenderal Pajak karena&nbsp;<br>
jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak.<br>
<br>
<br>
						Pasal 17<br>
<br>
(1)	Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan penelitian atau pemeriksaan, menerbitkan :<br>
<br>
	a.	Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak dalam jangka waktu paling lama dua belas&nbsp;<br>
		bulan sejak diterima surat permohonan, apabila jumlah pajak yang dibayar atau jumlah Pajak&nbsp;<br>
		Penghasilan yang dipotong atau dipungut ternyata lebih besar dari jumlah pajak yang&nbsp;<br>
		terhutang atau telah dilakukan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terhutang;<br>
<br>
	b.	Surat Pemberitaan, apabila jumlah pajak yang dibayar atau jumlah Pajak Penghasilan yang&nbsp;<br>
		dipotong atau dipungut sama dengan jumlah pajak yang terhutang.<br>
<br>
(2)	Apabila setelah lewat jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a Direktur Jenderal&nbsp;<br>
	Pajak tidak memberi suatu keputusan, permohonan kelebihan pembayaran pajak tersebut dianggap&nbsp;<br>
	dikabulkan.<br>
<br>
<br>
						BAB IV<br>
					   PENAGIHAN PAJAK<br>
<br>
						Pasal 18<br>
<br>
(1)	Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak, dan Surat Ketetapan Pajak Tambahan merupakan dasar&nbsp;<br>
	penagihan pajak.<br>
<br>
(2)	Tata cara pelaksanaan penagihan pajak diatur lebih lanjut oleh Menteri Keuangan.<br>
<br>
<br>
						Pasal 19<br>
<br>
(1)	Apabila atas pajak yang terhutang, pada saat jatuh tempo pembayaran tidak dibayar atau kurang&nbsp;<br>
	dibayar, maka atas jumlah pajak yang tidak dibayar atau kurang dibayar itu, dikenakan bunga&nbsp;<br>
	sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk seluruh masa, yang dihitung dari jatuh tempo sampai dengan&nbsp;<br>
	hari pembayaran dan bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan.<br>
<br>
(2)	Dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran pajak, juga dikenakan&nbsp;<br>
	bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan.<br>
<br>
(3)	Dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan menunda penyampaian Surat Pemberitahuan dan ternyata&nbsp;<br>
	penghitungan sementara pajak yang terhutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) kurang&nbsp;<br>
	dari jumlah pajak yang sebenarnya terhutang, maka atas kekurangan pembayaran pajak tersebut,&nbsp;<br>
	dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan yang dihitung dari saat berakhirnya kewajiban&nbsp;<br>
	menyampaikan Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b sampai&nbsp;<br>
	dengan hari dibayarnya kekurangan pembayaran tersebut.<br>
<br>
<br>
						Pasal 20<br>
<br>
Menyimpang dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 jumlah pajak yang terhutang berdasarkan<br>
Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak, atau Surat Ketetapan Pajak Tambahan ditagih seketika, dalam&nbsp;<br>
hal :<br>
<br>
a.	Wajib Pajak atau wakilnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) akan meninggalkan&nbsp;<br>
	Indonesia untuk selama-lamanya ataupun berniat untuk itu;<br>
<br>
b.	Wajib Pajak atau wakilnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) menghentikan atau secara&nbsp;<br>
	nyata mengecilkan kegiatan perusahaannya atau pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia ataupun&nbsp;<br>
	memindahtangankan barang bergerak atau barang tidak bergerak yang dimilikinya atau dikuasainya;<br>
<br>
c.	Pembubaran Badan atau niat untuk membubarkannya, pernyataan pailit, begitu pula dalam hal terjadi&nbsp;<br>
	penyitaan atas barang bergerak atau barang tidak bergerak milik Wajib Pajak atau wakilnya&nbsp;<br>
	sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2).<br>
<br>
<br>
						Pasal 21<br>
<br>
(1)	Negara mempunyai hak mendahulu untuk tagihan pajak atas barang-barang Wajib Pajak begitu pula&nbsp;<br>
	atas barang-barang milik wakilnya, serta orang atau Badan yang menurut Pasal 32 ayat (2) dan&nbsp;<br>
	ketentuan undang-undang perpajakan lainnya, bertanggung jawab secara pribadi dan/atau secara&nbsp;<br>
	renteng.<br>
<br>
(2)	Ketentuan tentang hak mendahulu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), meliputi pokok pajak,&nbsp;<br>
	bunga, denda administrasi, kenaikan, dan biaya penagihan.<br>
<br>
(3)	Hak mendahulu untuk tagihan pajak melebihi segala hak mendahulu lainnya, kecuali terhadap hak&nbsp;<br>
	mendahulu dari pihak-pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1139 angka 1 dan angka 4, Pasal&nbsp;<br>
	1149 angka 1 Kitab Undang-undang Hukum Perdata dan Pasal 80 dan Pasal 81 Kitab Undang-undang&nbsp;<br>
	Hukum Dagang.<br>
<br>
(4)	Hak mendahulu itu hilang setelah lampau waktu dua tahun sejak tanggal diterbitkan Surat Tagihan&nbsp;<br>
	Pajak, Surat Ketetapan Pajak, atau Surat Ketetapan Pajak Tambahan, kecuali apabila dalam jangka&nbsp;<br>
	waktu Surat Paksa untuk membayar itu diberitahukan secara resmi, atau diberikan penundaan&nbsp;<br>
	pembayaran.<br>
<br>
(5)	Dalam hal Surat Paksa untuk membayar diberitahukan secara resmi, jangka waktu dua tahun&nbsp;<br>
	sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), dihitung sejak tanggal pemberitahuan Surat Paksa, atau dalam&nbsp;<br>
	hal diberikan penundaan pembayaran jangka waktu dua tahun tersebut ditambah dengan jangka waktu&nbsp;<br>
	penundaan pembayaran.&nbsp;<br>
<br>
<br>
						Pasal 22<br>
<br>
Hak untuk melakukan penagihan pajak; termasuk bunga, denda administrasi, kenaikan, dan biaya penagihan&nbsp;<br>
gugur setelah lampau waktu lima tahun terhitung sejak saat terhutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak,&nbsp;<br>
Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak yang bersangkutan, kecuali apabila Wajib Pajak melakukan tindak&nbsp;<br>
pidana di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (7) dan Pasal 15 ayat (4).<br>
<br>
<br>
						Pasal 23<br>
<br>
Jumlah Pajak yang terhutang berdasarkan Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak, dan Surat Ketetapan&nbsp;<br>
Pajak Tambahan yang tidak dibayar pada waktunya dapat ditagih dengan Surat Paksa.<br>
<br>
<br>
						Pasal 24<br>
<br>
Tata cara penghapusan piutang pajak dan penetapan besarnya penghapusan diatur oleh Menteri Keuangan.<br>
<br>
<br>
						BAB V<br>
				       KEBERATAN DAN BANDING<br>
<br>
						Pasal 25<br>
<br>
(1)	Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan kepada Direktur Jenderal Pajak atas suatu :<br>
	a.	Surat Pemberitaan;<br>
	b.	Surat ketetapan Pajak;<br>
	c.	Surat Ketetapan Pajak Tambahan;<br>
	d.	Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran;<br>
	e.	Pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundang-<br>
		undangan perpajakan.<br>
<br>
(2)	Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan menyatakan alasan-alasan secara&nbsp;<br>
	jelas.<br>
<br>
(3)	Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu tiga bulan sejak tanggal surat, tanggal pemotongan&nbsp;<br>
	atau pemungutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), kecuali apabila Wajib Pajak dapat&nbsp;<br>
	menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.<br>
<br>
(4)	Tanda penerimaan Surat Keberatan yang diberikan oleh pejabat Direktorat Jenderal Pajak yang&nbsp;<br>
	ditunjuk untuk itu atau tanda pengiriman Surat Keberatan melalui pos tercatat menjadi tanda bukti&nbsp;<br>
	penerimaan Surat Keberatan tersebut bagi kepentingan Wajib Pajak.<br>
<br>
(5)	Apabila diminta oleh Wajib Pajak untuk keperluan pengajuan keberatan, Direktur Jenderal Pajak wajib&nbsp;<br>
	memberikan secara tertulis hal-hal yang menjadi dasar pengenaan, pemotongan, atau pemungutan&nbsp;<br>
	pajak.<br>
<br>
(6)	Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak.<br>
<br>
<br>
						Pasal 26<br>
<br>
(1)	Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama dua belas bulan sejak tanggal Surat Keberatan&nbsp;<br>
	diterima, harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.<br>
<br>
(2)	Sebelum surat keputusan diterbitkan, Wajib Pajak dapat menyampaikan alasan tambahan atau&nbsp;<br>
	penjelasan tertulis.<br>
<br>
(3)	Keputusan Direktur Jenderal Pajak atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian,&nbsp;<br>
	menolak atau menambah besarnya jumlah pajak yang terhutang.<br>
<br>
(4)	Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas ketetapan pajak yang ditentukan dalam Pasal 13&nbsp;<br>
	ayat (1) huruf b dan huruf d, Wajib Pajak yang bersangkutan harus dapat membuktikan ketidakbenaran&nbsp;<br>
	ketetapan pajak tersebut.<br>
<br>
(5)	Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) telah lewat dan Direktur Jenderal Pajak&nbsp;<br>
	tidak memberi suatu keputusan, maka keberatan yang diajukan tersebut dianggap diterima.<br>
<br>
<br>
						Pasal 27<br>
<br>
(1)	Wajib Pajak dapat mengajukan banding kepada badan peradilan pajak terhadap keputusan yang&nbsp;<br>
	ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak mengenai keberatannya dalam jangka waktu tiga bulan sejak&nbsp;<br>
	tanggal keputusan ditetapkan, dengan dilampiri salinan Surat Keputusan tersebut.<br>
<br>
(2)	Permohonan banding diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia.<br>
<br>
(3)	Pengajuan permohonan banding tidak menunda kewajiban membayar pajak.<br>
<br>
<br>
						BAB VI<br>
				     PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN<br>
<br>
						Pasal 28<br>
<br>
(1)	Orang atau Badan yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas di Indonesia harus&nbsp;<br>
	mengadakan pembukuan yang dapat menyajikan keterangan-keterangan yang cukup untuk&nbsp;<br>
	menghitung Penghasilan Kena Pajak atau harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, guna&nbsp;<br>
	penghitungan jumlah pajak terhutang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan&nbsp;<br>
	perpajakan.<br>
<br>
(2)	Bagi Wajib Pajak yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dibebaskan&nbsp;<br>
	dari kewajiban untuk mengadakan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), sekurang-<br>
	kurangnya harus menyelenggarakan pencatatan untuk dijadikan dasar pengenaan pajak yang&nbsp;<br>
	terhutang.<br>
<br>
(3)	Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan&nbsp;<br>
	mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya.<br>
<br>
(4)	Pembukuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya terdiri dari catatan yang&nbsp;<br>
	dikerjakan secara teratur tentang keadaan kas dan bank, daftar hutang-piutang dan daftar persediaan&nbsp;<br>
	barang, dan pada setiap Tahun Pajak berakhir Wajib Pajak harus menutup pembukuannya dengan&nbsp;<br>
	membuat neraca dan perhitungan rugi laba berdasarkan prinsip pembukuan yang taat asas (konsisten)&nbsp;<br>
	dengan tahun sebelumnya.&nbsp;<br>
<br>
(5)	Pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin,&nbsp;<br>
	angka Arab, satuan mata uang rupiah, dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing&nbsp;<br>
	yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.<br>
<br>
(6)	Pembukuan atau pencatatan dan dokumen yang menjadi dasarnya serta dokumen lain yang&nbsp;<br>
	berhubungan dengan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas Wajib Pajak harus disimpan selama&nbsp;<br>
	sepuluh tahun.<br>
<br>
<br>
						Pasal 29<br>
<br>
(1)	Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan pemeriksaan untuk menetapkan besarnya jumlah pajak&nbsp;<br>
	yang terhutang dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-<br>
	undangan perpajakan.<br>
<br>
(2)	Untuk keperluan pemeriksaan petugas pemeriksa harus dilengkapi dengan Surat Perintah Pemeriksaan&nbsp;<br>
	dan harus memperlihatkannya kepada Wajib Pajak yang diperiksa.<br>
<br>
(3)	Wajib Pajak yang diperiksa harus :<br>
	a.	memperlihatkan dan meminjamkan pembukuan atau pencatatan, dokumen yang menjadi&nbsp;<br>
		dasarnya, dan dokumen lain yang berhubungan dengan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas&nbsp;<br>
		Wajib Pajak;<br>
	b.	memberi kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dipandang perlu dan&nbsp;<br>
		memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan;<br>
	c.	memberikan keterangan yang diperlukan.<br>
<br>
(4)	Apabila dalam pengungkapan pembukuan, pencatatan, atau dokumen serta keterangan yang diminta,&nbsp;<br>
	Wajib Pajak yang terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakan, maka kewajiban untuk&nbsp;<br>
	merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan sebagaimana dimaksud&nbsp;<br>
	dalam ayat (3), sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.<br>
<br>
<br>
						Pasal 30<br>
<br>
Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan penyegelan tempat atau ruangan tertentu, bila Wajib Pajak tidak&nbsp;<br>
memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3) huruf b.<br>
<br>
<br>
						Pasal 31<br>
<br>
Tata cara pemeriksaan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.<br>
<br>
<br>
						BAB VII<br>
					  KETENTUAN KHUSUS<br>
<br>
						Pasal 32<br>
<br>
(1)	Dalam menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut ketentuan peraturan perundang-undangan&nbsp;<br>
	perpajakan, Wajib Pajak diwakili, dalam hal :<br>
  	a.	Badan oleh pengurus;<br>
  	b.	Badan dalam pembubaran atau pailit oleh orang atau Badan yang dibebani dengan&nbsp;<br>
		pemberesan;<br>
  	c.	Suatu warisan yang belum terbagi oleh salah seorang ahli warisnya, pelaksana wasiatnya atau&nbsp;<br>
		yang mengurus harta peninggalannya;<br>
  	d.	anak yang belum dewasa atau orang yang berada dalam pengampuan oleh wali atau&nbsp;<br>
		pengampunya.<br>
<br>
(2)	Wakil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertanggung jawab secara pribadi dan/atau secara&nbsp;<br>
	renteng atas pembayaran pajak yang terhutang, kecuali apabila dapat membuktikan dan meyakinkan&nbsp;<br>
	Direktur Jenderal Pajak, bahwa mereka dalam kedudukannya benar-benar tidak mungkin untuk&nbsp;<br>
	dibebani tanggung jawab atas pajak yang terhutang tersebut.<br>
<br>
(3)	Orang atau Badan dapat menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan hak&nbsp;<br>
	dan memenuhi kewajiban menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.<br>
<br>
<br>
						Pasal 33<br>
<br>
Pembeli atau penerima jasa sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai Barang&nbsp;<br>
dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah bertanggung jawab secara renteng atas pembayaran pajak,&nbsp;<br>
sepanjang tidak dapat menunjukkan bukti pembayaran pajak.<br>
<br>
<br>
						Pasal 34<br>
<br>
(1)	Setiap pejabat dilarang memberitahukan kepada pihak lain yang tidak berhak segala sesuatu yang&nbsp;<br>
	diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh Wajib Pajak dalam rangka jabatan atau pekerjaannya&nbsp;<br>
	untuk menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.<br>
<br>
(2)	Larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku juga terhadap ahli yang ditunjuk oleh Direktur&nbsp;<br>
	Jenderal Pajak untuk membantu dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan&nbsp;<br>
	perpajakan.<br>
<br>
(3)	Menteri Keuangan berwenang memerintahkan secara tertulis kepada pejabat sebagaimana dimaksud&nbsp;<br>
	dalam ayat (1) dan ahli-ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), supaya memberikan keterangan,&nbsp;<br>
	memperlihatkan  bukti tertulis dari Wajib Pajak kepada Pejabat Pemeriksa untuk keperluan&nbsp;<br>
	pemeriksaan Keuangan Negara. Surat Perintah tersebut di atas menyebutkan nama Wajib Pajak yang&nbsp;<br>
	dikehendaki keterangannya dan nama pemeriksa.<br>
<br>
(4)	Untuk kepentingan pemeriksaan di Pengadilan dalam perkara pidana; atas permintaan Hakim&nbsp;<br>
	sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara&nbsp;<br>
	Pidana, Menteri Keuangan dapat memberi izin tertulis untuk meminta kepada pejabat pajak&nbsp;<br>
	sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), bukti tertulis&nbsp;<br>
	dan keterangan Wajib Pajak yang ada padanya.<br>
<br>
(5)	Permintaan Hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), harus menyebutkan nama tersangka,&nbsp;<br>
	keterangan-keterangan yang diminta serta kaitan antara perkara pidana yang bersangkutan dengan&nbsp;<br>
	keterangan yang diminta tersebut.<br>
<br>
<br>
						Pasal 35<br>
<br>
(1)	Apabila dalam menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperlukan&nbsp;<br>
	keterangan atau bukti dari pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan Wajib Pajak yang&nbsp;<br>
	diperiksa, atas permintaan Direktur Jenderal Pajak pihak ketiga tersebut harus memberikan&nbsp;<br>
	keterangan atau bukti yang diminta.<br>
<br>
(2)	Dalam hal pihak ketiga yang bersangkutan tersebut terikat oleh kewajiban untuk merahasiakan,&nbsp;<br>
	kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan sesuai&nbsp;<br>
	dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.<br>
<br>
<br>
						Pasal 36<br>
<br>
(1)	Direktur Jenderal Pajak dapat :<br>
	a.	mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan&nbsp;<br>
		yang terhutang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dalam hal&nbsp;<br>
		sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya;<br>
	b.	mengurangkan atau membatalkan ketetapan pajak yang tidak benar.<br>
<br>
(2)	Tata cara pengurangan, penghapusan, atau pembatalan hutang pajak sebagaimana dimaksud dalam&nbsp;<br>
	ayat (1), diatur oleh Menteri Keuangan.<br>
<br>
<br>
						Pasal 37<br>
<br>
Perubahan besarnya sanksi administrasi berupa bunga, denda administrasi, dan kenaikan diatur dengan&nbsp;<br>
Peraturan Pemerintah.<br>
<br>
<br>
						BAB VIII<br>
					   KETENTUAN PIDANA<br>
<br>
						Pasal 38<br>
<br>
Barang siapa karena kealpaannya :<br>
a.	tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; atau<br>
b.	menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi yang isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau&nbsp;<br>
	melampirkan keterangan yang tidak benar;<br>
<br>
sehingga dapat menimbulkan kerugian pada Negara, dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya satu&nbsp;<br>
tahun dan/atau denda setinggi-tingginya sebesar dua kali jumlah pajak yang terhutang.<br>
<br>
<br>
						Pasal 39<br>
<br>
(1)	Barang siapa dengan sengaja :<br>
	a.	tidak mendaftarkan diri atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok&nbsp;<br>
		Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2; atau<br>
	b.	tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; dan/atau<br>
	c.	menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak&nbsp;<br>
		lengkap; dan/atau<br>
	d.	memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan&nbsp;<br>
		seolah-olah benar; dan/atau<br>
	e.	tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen&nbsp;<br>
		lainnya; dan/atau<br>
	f.	tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut;<br>
<br>
	sehingga dapat menimbulkan kerugian pada negara, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya&nbsp;<br>
	tiga tahun dan/atau denda setinggi-tingginya sebesar empat kali jumlah pajak yang terhutang yang&nbsp;<br>
	kurang atau yang tidak dibayar.<br>
<br>
(2)	Ancaman pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilipatkan dua apabila seseorang melakukan&nbsp;<br>
	lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat satu tahun, terhitung sejak selesainya&nbsp;<br>
	menjalani sebagian atau seluruh pidana penjara yang dijatuhkan.<br>
<br>
<br>
						Pasal 40<br>
<br>
Tindak pidana di bidang perpajakan tidak dapat dituntut setelah lampau waktu sepuluh tahun sejak saat&nbsp;<br>
terhutangnya pajak, berakhirnya Masa Pajak, berakhirnya Bagian Tahun Pajak, atau berakhirnya Tahun Pajak&nbsp;<br>
yang bersangkutan;<br>
<br>
<br>
						Pasal 41<br>
<br>
(1)	Pejabat yang karena kealpaannya tidak memenuhi kewajiban merahasiakan hal sebagaimana&nbsp;<br>
	dimaksud dalam Pasal 34, dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya enam bulan dan/atau&nbsp;<br>
	denda setinggi-tingginya Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah).<br>
<br>
(2)	Pejabat yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya atau seseorang yang menyebabkan tidak&nbsp;<br>
	dipenuhinya kewajiban pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dipidana dengan pidana&nbsp;<br>
	penjara selama-lamanya satu tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp. 2.000.000,- (dua juta&nbsp;<br>
	rupiah).<br>
<br>
(3)	Penuntutan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) hanya&nbsp;<br>
	dilakukan atas pengaduan orang yang kerahasiaannya dilanggar.<br>
<br>
<br>
						Pasal 42<br>
<br>
(1)	Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dan pasal 41 ayat (1) adalah pelanggaran.<br>
<br>
(2)	Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 dan Pasal 41 ayat (2) adalah kejahatan.<br>
<br>
<br>
						Pasal 43<br>
<br>
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dan Pasal 39, berlaku juga bagi wakil, kuasa, atau pegawai&nbsp;<br>
dari wajib Pajak.<br>
<br>
						BAB IX<br>
					        PENYIDIKAN<br>
<br>
						Pasal 44<br>
<br>
(1)	Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak diberi wewenang khusus&nbsp;<br>
	sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, sebagaimana&nbsp;<br>
	dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.<br>
<br>
(2)	Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang :<br>
	a.	melakukan penelitian atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak&nbsp;<br>
		pidana di bidang perpajakan;<br>
	b.	melakukan penelitian terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang&nbsp;<br>
		perpajakan;<br>
	c.	meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau Badan sehubungan dengan peristiwa&nbsp;<br>
		tindak pidana di bidang perpajakan;<br>
	d.	melakukan pemeriksaan atas pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen lain berkenaan&nbsp;<br>
		dengan tindak pidana di bidang perpajakan;<br>
	e.	melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti pembukuan,&nbsp;<br>
		pencatatan, dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan yang&nbsp;<br>
		dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang perpajakan;<br>
	f.	meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang&nbsp;<br>
		perpajakan.<br>
<br>
(3)	Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan&nbsp;<br>
	menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur&nbsp;<br>
	dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.<br>
<br>
<br>
						BAB IX<br>
				           KETENTUAN PERALIHAN<br>
<br>
						Pasal 45&nbsp;<br>
<br>
Terhadap pajak-pajak yang terhutang pada suatu saat, untuk Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun&nbsp;<br>
Pajak yang berakhir sebelum saat berlakunya undang-undang ini, tetap berlaku ketentuan peraturan&nbsp;<br>
perundang-undangan perpajakan yang lama, sampai dengan tanggal 31 Desember 1988.<br>
<br>
<br>
						Pasal 46<br>
<br>
Dengan berlakunya undang-undang ini semua peraturan pelaksanaan di bidang perpajakan yang lama tetap&nbsp;<br>
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini.<br>
<br>
<br>
						Pasal 47<br>
<br>
Terhadap penghasilan kena pajak yang diterima atau diperoleh dalam bidang penambangan minyak dan gas&nbsp;<br>
bumi serta dalam bidang penambangan lainnya sehubungan dengan Kontrak Karya dan Kontrak Bagi Hasil,&nbsp;<br>
yang masih berlaku pada saat berlakunya undang-undang ini, dikenakan pajak berdasarkan ketentuan-<br>
ketentuan Ordonansi Pajak Perseroan 1925 dan Undang-undang Pajak atas Bunga, Dividen dan Royalty&nbsp;<br>
1970 beserta semua peraturan pelaksanaannya.<br>
<br>
<br>
						BAB XI<br>
					  KETENTUAN PENUTUP<br>
<br>
						Pasal 48<br>
<br>
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam undang-undang ini, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.<br>
<br>
<br>
						Pasal 49&nbsp;<br>
<br>
Ketentuan dalam undang-undang ini berlaku pula bagi undang-undang perpajakan lainnya kecuali apabila&nbsp;<br>
ditentukan lain.<br>
<br>
<br>
						Pasal 50<br>
<br>
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1984.<br>
<br>
Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan undang-undang ini dengan&nbsp;<br>
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.<br>
<br>
<br>
<br>
<br>
								Disahkan di Jakarta<br>
								Pada tanggal 31 Desember 1983<br>
								PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,<br>
<br>
									ttd<br>
<br>
								SOEHARTO<br>
<br>
Diundangkan di Jakarta<br>
Pada tanggal 31 Desember 1983<br>
MENTERI/SEKRETARIS NEGARA<br>
REPUBLIK INDONESIA,<br>
<br>
	ttd<br>
<br>
SUDHARMONO, S.H.<br>
<br>
<br>
<br>
<br>
		        LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1983 NOMOR 49<br>
<br>
<br>
<br>
<br>
<br>
<br>
					   PENJELASAN<br>
					         ATAS<br>
<br>
			         UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA<br>
				           NOMOR 6 TAHUN 1983<br>
<br>
					        TENTANG<br>
<br>
			    KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN<br>
<br>
<br>
<br>
UMUM<br>
<br>
1.	Peraturan perundang-undangan perpajakan yang merupakan landasan pemungutan pajak yang&nbsp;<br>
	berlaku 	selama ini, sebagian besar merupakan warisan kolonial, yang pada saat itu dibuat semata-<br>
	mata hanya untuk menghimpun dana bagi Pemerintah penjajahan dalam rangka mempertahankan&nbsp;<br>
	dan memperbesar kekuasaannya di tanah air kita.<br>
<br>
	Oleh karenanya pemungutan pajak saat itu dirasakan oleh rakyat sebagai beban yang berat, sebab&nbsp;<br>
	baik penetapan jumlah pajak, jenis pajak maupun tata cara pemungutannya dilaksanakan di luar rasa&nbsp;<br>
	keadilan tanpa menghiraukan kemampuan serta menambah beban penderitaan dan jauh dari&nbsp;<br>
	pertimbangan dan penghargaan kepada hak asasi rakyat.<br>
<br>
	Pajak hanyalah merupakan kewajiban semata-mata yang harus dilaksanakan rakyat secara patuh.<br>
<br>
	Peraturan perundang-undangan perpajakan yang dibuat pada zaman pemerintahan penjajahan&nbsp;<br>
	Belanda adalah antara lain : Aturan Bea Meterai tahun 1921, Ordonansi Pajak Perseroan tahun 1925,&nbsp;<br>
	Ordonansi Pajak Kekayaan tahun 1932, Ordonansi Pajak Pendapatan tahun 1944.<br>
<br>
	Meskipun terhadap berbagai peraturan perundang-undangan perpajakan sisa-sisa kolonial tersebut&nbsp;<br>
	telah beberapa kali dilakukan upaya perubahan dan penyesuaian, namun karena berbeda falsafah&nbsp;<br>
	yang melatar belakanginya, serta sistem yang melekat kepada undang-undang tersebut, maka&nbsp;<br>
	sepanjang perpajakan dilandasi ketentuan-ketentuan perundang-undangan tersebut, belumlah bisa&nbsp;<br>
	memenuhi fungsinya sebagai sarana yang dapat menunjang cita-cita Bangsa dan Pembangunan&nbsp;<br>
	Nasional yang sedang dilaksanakan sekarang ini.<br>
<br>
2.	Memasuki alam kemerdekaan, sejak proklamasi 17 Agustus 1945, terhadap berbagai peraturan&nbsp;<br>
	perundang-undangan di bidang perpajakan telah dilakukan perubahan, tambahan dan penyesuaian&nbsp;<br>
	sebagai upaya untuk menyesuaikan terhadap keadaan dan tuntutan rakyat dari suatu negara yang&nbsp;<br>
	telah memperoleh kemerdekaannya. Namun perubahan-perubahan tersebut di masa lalu lebih bersifat&nbsp;<br>
	parsial, sedangkan perubahan yang agak mendasar baru dilakukan melalui Undang-undang Nomor 8&nbsp;<br>
	Tahun 1967 tentang Tata Cara Pemungutan Pajak Pendapatan, Pajak Kekayaan dan Pajak Perseroan,&nbsp;<br>
	yang kemudian pelaksanaan diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 1967 yang&nbsp;<br>
	selanjutnya terkenal dengan "sistem MPS dan MPO". Sistem tersebut merupakan penyempurnaan&nbsp;<br>
	sistem pajak sesuai dengan tingkat perkembangan sosial ekonomi Indonesia.<br>
<br>
	Meskipun demikian, upaya yang telah dilakukan untuk merubah berbagai peraturan perundang-<br>
	undangan perpajakan tersebut, belumlah menjawab secara fundamental tuntutan dan kebutuhan&nbsp;<br>
	rakyat tentang perlunya seperangkat peraturan perundang-undangan perpajakan yang secara&nbsp;<br>
	mendasar.<br>
<br>
	Peraturan perundang-undangan yang dimaksud harus dilandasi falsafah Pancasila dan Undang-undang&nbsp;<br>
	Dasar 1945, yang didalamnya tertuang ketentuan yang menjunjung tinggi hak warganegara dan&nbsp;<br>
	menempatkan kewajiban perpajakan sebagai kewajiban kenegaraan dan merupakan sarana peran&nbsp;<br>
	serta rakyat dalam bidang kenegaraan.<br>
<br>
	Petunjuk akan perlunya perubahan yang mendasar sebenarnya telah tertuang jelas sebagai amanat&nbsp;<br>
	rakyat, seperti tersurat dan tersirat dalam Garis-garis Besar Haluan Negara yang antara lain berbunyi :&nbsp;<br>
	"Sistem perpajakan terus disempurnakan, pemungutan pajak diintensifkan dan aparat perpajakan&nbsp;<br>
	harus makin mampu dan bersih".<br>
<br>
3.	Oleh karena itu undang-undang ini sebagai suatu undang-undang di bidang perpajakan yang dilandasi&nbsp;<br>
	falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, seharusnya berbeda dengan undang-undang&nbsp;<br>
	perpajakan yang dibuat di zaman kolonial.<br>
<br>
	Perbedaan tersebut akan nyata terlihat dalam sistem dan mekanisme serta cara pandang terhadap&nbsp;<br>
	Wajib Pajak, yang tidak dianggap sebagai "obyek", tetapi merupakan subyek yang harus dibina dan&nbsp;<br>
	diarahkan agar mau dan mampu memenuhi kewajiban perpajakannya sebagai pelaksanaan kewajiban&nbsp;<br>
	kenegaraan.<br>
<br>
	Di segi lain tuntutan masyarakat terhadap adanya "aparatur perpajakan yang makin mampu dan&nbsp;<br>
	bersih", dituangkan dalam berbagai ketentuan yang bersifat pengawasan dalam undang-undang ini.<br>
<br>
	Perbedaan falsafah dan landasan yang menjadi latar belakang dan dasar pembentukan undang-<br>
	undang ini tercermin dalam ketentuan-ketentuan yang mengatur sistem dan mekanisme pemungutan&nbsp;<br>
	pajak.&nbsp;<br>
<br>
	Sistem dan mekanisme tersebut pada gilirannya akan menjadi ciri dan corak tersendiri dalam sistem&nbsp;<br>
	perpajakan Indonesia, karena kedudukan undang-undang ini yang akan menjadi "ketentuan umum"&nbsp;<br>
	bagi peraturan perundang-undangan perpajakan yang lain.<br>
<br>
	Ciri dan corak tersendiri dari sistem pemungutan pajak tersebut adalah :<br>
<br>
	a.	bahwa pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian kewajiban dan peran serta&nbsp;<br>
		Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan&nbsp;<br>
		yang diperlukan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional;<br>
<br>
	b.	tanggung jawab atas kewajiban pelaksanaan pajak, sebagai pencerminan kewajiban di bidang&nbsp;<br>
		perpajakan berada pada anggota masyarakat Wajib Pajak sendiri.<br>
<br>
		Pemerintah, dalam hal ini aparat perpajakan sesuai dengan fungsinya berkewajiban&nbsp;<br>
		melakukan pembinaan, penelitian dan pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban&nbsp;<br>
		perpajakan Wajib Pajak berdasarkan ketentuan yang digariskan dalam peraturan perundang-<br>
		undangan perpajakan;<br>
<br>
	c.	anggota masyarakat Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk dapat melaksanakan&nbsp;<br>
		kegotongroyongan nasional melalui sistem menghitung, memperhitungkan, dan membayar&nbsp;<br>
		sendiri pajak yang terhutang ( self assesment ), sehingga melalui sistem ini pelaksanaan&nbsp;<br>
		administrasi perpajakan diharapkan dapat dilaksanakan dengan lebih rapi, terkendali,&nbsp;<br>
		sederhana dan mudah untuk dipahami oleh anggota masyarakat Wajib Pajak.<br>
<br>
	Berdasarkan ketiga prinsip pemungutan pajak tersebut, Wajib Pajak diwajibkan menghitung,&nbsp;<br>
	memperhitungkan, dan membayar sendiri jumlah pajak yang seharusnya terhutang sesuai dengan&nbsp;<br>
	ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, sehingga penentuan penetapan besarnya pajak&nbsp;<br>
	yang terhutang berada pada  Wajib Pajak sendiri. Selain dari pada itu Wajib Pajak diwajibkan pula&nbsp;<br>
	melaporkan secara teratur jumlah pajak yang terhutang dan telah dibayar sebagaimana ditentukan&nbsp;<br>
	dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Dengan sistem ini diharapkan pelaksanaan&nbsp;<br>
	administrasi perpajakan yang berbelit-belit dan birokratis akan dihilangkan.&nbsp;<br>
<br>
	Ciri dan corak sistem pemungutan pajak tersebut sangat berbeda dengan sistem lama warisan zaman&nbsp;<br>
	kolonial/ yang antara lain :<br>
<br>
	a.	tanggung jawab pemungutan pajak terletak sepenuhnya pada penguasa pemerintahan seperti&nbsp;<br>
		yang tercermin dalam sistem penetapan pajak yang keseluruhannya menjadi wewenang&nbsp;<br>
		administrasi perpajakan;<br>
<br>
	b.	pelaksanaan kewajiban perpajakan, dalam banyak hal sangat tergantung dari pelaksanaan&nbsp;<br>
		administrasi perpajakan yang dilakukan oleh aparat perpajakan, hal mana mengakibatkan&nbsp;<br>
		anggota masyarakat Wajib Pajak kurang mendapat pembinaan dan bimbingan terhadap&nbsp;<br>
		kewajiban perpajakannya dan kurang ikut berperan serta dalam memikul beban negara dalam&nbsp;<br>
		mempertahankan kelangsungan pembangunan nasional.<br>
<br>
	Jelaslah bahwa sistem pemungutan pajak yang ditentukan menurut undang-undang ini, memberi&nbsp;<br>
	kepercayaan lebih besar kepada anggota masyarakat Wajib Pajak untuk melaksanakan kewajiban&nbsp;<br>
	perpajakannya.<br>
<br>
	Selain itu jaminan dan kepastian hukum mengenai hak dan kewajiban perpajakan bagi Wajib Pajak&nbsp;<br>
	lebih diperhatikan, dengan demikian dapat merangsang peningkatan kesadaran dan tanggung jawab&nbsp;<br>
	perpajakan di masyarakat. Tugas administrasi perpajakan tidak lagi seperti yang terjadi pada waktu&nbsp;<br>
	yang lampau, dimana administrasi perpajakan meletakkan kegiatannya pada tugas merampungkan/<br>
	menetapkan semua Surat Pemberitahuan guna menentukan jumlah pajak yang terhutang dan jumlah&nbsp;<br>
	pajak yang seharusnya dibayar, tetapi menurut ketentuan undang-undang ini administrasi perpajakan,&nbsp;<br>
	berperan aktif dalam melaksanakan pengendalian administrasi pemungutan pajak yang meliputi tugas-<br>
	tugas pembinaan, penelitian, pengawasan, dan penerapan sanksi administrasi.<br>
<br>
	Pembinaan masyarakat Wajib Pajak dapat dilakukan melalui berbagai upaya, antara lain pemberian&nbsp;<br>
	penyuluhan pengetahuan perpajakan baik melalui media masa maupun penerangan langsung dalam&nbsp;<br>
	masyarakat.<br>
<br>
4.	Dengan landasan sebagaimana telah diuraikan di muka sebagai suatu uraian yang utuh dan&nbsp;<br>
	menyeluruh, serta sesuai dengan amanat yang tersurat dan tersirat dalam Garis-garis Besar Haluan&nbsp;<br>
	negara, maka diadakan pembaharuan sistem dan hukum perpajakan di Indonesia, yang dituangkan&nbsp;<br>
	dalam Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan tata Cara Perpajakan.<br>
<br>
	Perubahan tersebut diharapkan dapat menunjang sepenuhnya laju pembangunan dan mempercepat&nbsp;<br>
	terwujudnya perataan pendapatan masyarakat, peningkatan serta perluasan tingkat kesadaran&nbsp;<br>
	kewajiban perpajakan, perataan dan perluasan tingkat kesadaran kewajiban perpajakan, perataan dan&nbsp;<br>
	perluasan obyek kena pajak dan peningkatan penerimaan negara sejalan dengan perkembangan&nbsp;<br>
	Pembangunan Nasional sehingga mempercepat terwujudnya cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945.<br>
<br>
<br>
PASAL DEMI PASAL<br>
<br>
Pasal 1<br>
	Dalam pasal ini memuat perumusan mengenai pengertian istilah perpajakan yang dipergunakan dalam&nbsp;<br>
	undang-undang ini.<br>
<br>
	Dengan adanya pengertian tentang istilah-istilah tersebut dapat dicegah adanya salah pengertian atau&nbsp;<br>
	salah penafsiran dalam melaksanakan pasal-pasal yang bersangkutan, sehingga dapat mencapai&nbsp;<br>
	kelancaran dan kemudahan baik bagi Wajib Pajak maupun bagi aparatur dalam melaksanakan&nbsp;<br>
	kewajibannya dan pada akhirnya dicapai tertibnya administrasi perpajakan.<br>
<br>
	Pengertian ini diperlukan, karena mengandung hal yang bersifat teknis dan baku, khususnya dalam&nbsp;<br>
	bidang perpajakan.<br>
<br>
Pasal 2<br>
	Semua Wajib Pajak berdasarkan sistem self assesment harus mendaftarkan dirinya pada Direktorat&nbsp;<br>
	Jenderal Pajak untuk dicatat sebagai Wajib Pajak dan sekaligus untuk mendapatkan Nomor Pokok&nbsp;<br>
	Wajib Pajak (NPWP).&nbsp;<br>
<br>
	Nomor Pokok Wajib Pajak tersebut adalah suatu sarana dalam administrasi perpajakan yang&nbsp;<br>
	dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak. Dengan diperolehnya Nomor&nbsp;<br>
	Pokok Wajib Pajak, berarti Wajib Pajak telah terdaftar di Direktorat Jenderal Pajak.<br>
<br>
	Fungsi Nomor Pokok Wajib Pajak tersebut selain dipergunakan untuk mengetahui identitas Wajib&nbsp;<br>
	Pajak yang sebenarnya, juga berguna untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam&nbsp;<br>
	pengawasan administrasi perpajakan. Setiap Wajib Pajak dalam hal yang berhubungan dengan&nbsp;<br>
	dokumen perpajakan diharuskan mencantumkan Nomor Pokok Wajib Pajak yang dimilikinya.&nbsp;<br>
	Terhadap Wajib Pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak&nbsp;<br>
	(NPWP) akan dikenakan sanksi pidana.<br>
<br>
Pasal 3<br>
	Ayat (1)<br>
		Fungsi Surat Pemberitahuan ( untuk selanjutnya disebut SPT ) adalah sebagai sarana Wajib&nbsp;<br>
		Pajak untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang&nbsp;<br>
		sebenarnya terhutang dan laporan tentang pemenuhan pembayaran pajak yang telah&nbsp;<br>
		dilaksanakan sendiri dalam satu Tahun Pajak atau bagian Tahun Pajak dan laporan&nbsp;<br>
		pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan/pemungutan pajak orang&nbsp;<br>
		atau badan lain dalam satu Masa Pajak yang ditentukan oleh ketentuan peraturan perundang-<br>
		undangan perpajakan. Setiap Wajib Pajak wajib mengambil sendiri SPT yang telah disediakan&nbsp;<br>
		oleh Direktorat Jenderal Pajak, mengisi, menghitung, dan memperhitungkan sendiri pajak&nbsp;<br>
		yang terhutang untuk satu Masa Pajak dalam SPT, dan menyampaikan SPT yang telah diisi&nbsp;<br>
		dan ditandatanganinya ke Direktorat Jenderal Pajak dalam batas waktu yang ditentukan. Yang&nbsp;<br>
		dimaksud dengan mengisi SPT adalah, mengisi formulir SPT secara benar, jelas, lengkap&nbsp;<br>
		sesuai dengan petunjuk yang diberikan mengenai penghitungan jumlah pajak yang terhutang&nbsp;<br>
		berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Pengisian SPT yang tidak&nbsp;<br>
		benar yang berakibat timbulnya kerugian bagi negara akan dikenakan sanksi pidana&nbsp;<br>
		berdasarkan Pasal 38 dan Pasal 39 dalam undang-undang ini. Demikian pula keterlambatan&nbsp;<br>
		atau tidak menyampaikan SPT akan dikenakan sanksi administrasi berupa denda.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Dalam rangka pelayanan dan kemudahan bagi Wajib Pajak formulir SPT disediakan pada&nbsp;<br>
		Kantor-kantor di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, Kantor Pos dan Giro, Kantor Pos&nbsp;<br>
		Pembantu, dan tempat-tempat lain yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak dan yang&nbsp;<br>
		diperkirakan mudah terjangkau oleh Wajib Pajak.&nbsp;<br>
<br>
	Ayat (3)<br>
		Ayat ini mengatur tentang batas waktu pemasukan SPT. SPT dapat dibedakan menjadi dua,&nbsp;<br>
		yaitu SPT Masa untuk melaporkan pembayaran masa yang dilakukan oleh Wajib Pajak , dan&nbsp;<br>
		SPT Tahunan untuk memberitahukan besarnya pajak yang terhutang dari penghasilan yang&nbsp;<br>
		diperoleh Wajib Pajak dalam satu tahun pajak.<br>
<br>
		Batas waktu tersebut dalam Pasal 3 ayat (3) huruf a dan b adalah batas waktu terakhir. Batas&nbsp;<br>
		waktu tersebut dianggap cukup memadai bagi wajib Pajak untuk mempersiapkan segala&nbsp;<br>
		sesuatu yang berhubungan dengan pembayaran pajak maupun penyelesaian pembukuannya.<br>
<br>
	Ayat (4)<br>
		Apabila Wajib Pajak baik orang atau Badan ternyata tidak dapat menyelesaikan/menyiapkan&nbsp;<br>
		laporan keuangan tahunan atau neraca perusahaan beserta daftar rugi laba dalam jangka&nbsp;<br>
		waktu tiga bulan benar-benar mengalami kesulitan, karena luasnya kegiatan usaha dan&nbsp;<br>
		masalah-masalah teknis pembuatan neraca atau laporan keuangan sulit untuk memenuhi&nbsp;<br>
		batas waktu penyelesaian dan memerlukan kelonggaran dari batas waktu yang telah&nbsp;<br>
		ditentukan, Wajib Pajak berhak untuk mengajukan permohonan agar memperoleh&nbsp;<br>
		perpanjangan waktu penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan.<br>
<br>
	Ayat (5)<br>
		Untuk mencegah usaha penghindaran diri dan/atau perpanjangan waktu pembayaran pajak&nbsp;<br>
		yang terhutang dalam satu Tahun Pajak yang harus dibayar sebelum batas waktu pemasukan&nbsp;<br>
		SPT Tahunan, perlu kiranya ditetapkan persyaratan khusus dan menetapkan sanksi&nbsp;<br>
		administrasi berupa pungutan bunga bagi Wajib Pajak yang ingin memperpanjang waktu&nbsp;<br>
		penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan.<br>
<br>
		Persyaratan khusus tersebut berupa keharusan memberikan pernyataan tertulis tentang&nbsp;<br>
		besarnya pajak yang harus dibayar berdasarkan penghitungan sementara dalam satu Tahun&nbsp;<br>
		Pajak, sebagai lampiran Surat Permohonan penundaan kewajiban penyampaian SPT Tahunan&nbsp;<br>
		Pajak Penghasilan.<br>
<br>
	Ayat (6)<br>
		Karena SPT itu merupakan alat penelitian atas kebenaran penghitungan pajak terhutang yang&nbsp;<br>
		diberitahukan oleh Wajib Pajak, maka lampiran tersebut merupakan bagian dari SPT dan&nbsp;<br>
		merupakan persyaratan mutlak yang harus dipenuhi oleh Wajib Pajak.<br>
<br>
Pasal 4<br>
	Ayat (1)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (3)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (4)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
Pasal 5<br>
	Cukup jelas.&nbsp;<br>
<br>
Pasal 6<br>
	Ayat (1)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Cukup jelas.&nbsp;<br>
<br>
Pasal 7<br>
	Untuk kepentingan tertib administrasi perpajakan dan untuk menjaga disiplin Wajib Pajak, bagi Wajib&nbsp;<br>
	Pajak yang tidak mematuhi kewajiban formal menyampaikan SPT sesuai dengan batas waktu yang&nbsp;<br>
	ditentukan, dikenakan sanksi berupa denda administrasi yang ditetapkan sebesar Rp 10.000,-&nbsp;<br>
	(sepuluh ribu rupiah).<br>
<br>
Pasal 8<br>
	Ayat (1)<br>
		Terhadap kekeliruan dalam pengisian SPT yang dibuat oleh Wajib Pajak, masih terbuka&nbsp;<br>
		baginya hak untuk melakukan pembetulan sendiri, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak&nbsp;<br>
		belum mengetahui tentang adanya ketidakbenaran dalam SPT yang telah disampaikan atau&nbsp;<br>
		belum menugaskan petugasnya untuk memulai tindakan pemeriksaan.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Dengan adanya pembetulan sendiri SPT tersebut membawa akibat penghitungan jumlah pajak&nbsp;<br>
		yang terhutang dan jumlah perhitungan pembayaran pajak menjadi berubah dari jumlah&nbsp;<br>
		semula. Atas kekurangan pembayaran pajak sebagai akibat pembetulan tersebut dikenakan&nbsp;<br>
		sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan.<br>
<br>
		Bunga yang terhutang atas kekurangan pembayaran pajak tersebut, dihitung mulai dari&nbsp;<br>
		berakhirnya batas waktu penyampaian SPT sampai dengan tanggal pembayaran karena&nbsp;<br>
		adanya pembetulan SPT tersebut. Apabila terdapat kelebihan pembayaran pajak dalam&nbsp;<br>
		melakukan pembetulan tersebut, Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian&nbsp;<br>
		kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11.<br>
<br>
	Ayat (3)<br>
		Wajib Pajak yang melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, sepanjang&nbsp;<br>
		belum dilakukan tindakan penyidikan oleh petugas perpajakan, sekalipun telah dilakukan&nbsp;<br>
		pemeriksaan terhadapnya dan Wajib Pajak telah mengungkapkan kesalahannya dan sekaligus&nbsp;<br>
		melunasi jumlah pajak yang sebenarnya terhutang beserta denda administrasi sebesar dua&nbsp;<br>
		kali dari jumlah pajak yang kurang dibayar, maka terhadapnya tidak akan dilakukan&nbsp;<br>
		penyidikan. Namun bilamana telah dilakukan tindakan penyidikan dan mulainya penyidikan&nbsp;<br>
		tersebut diberitahukan kepada Penuntut Umum, maka kesempatan untuk membetulkan sendiri&nbsp;<br>
		sudah tertutup bagi Wajib Pajak yang bersangkutan.<br>
<br>
Pasal 9<br>
	Ayat (1)<br>
		Batas waktu Pembayaran Masa ditentukan oleh Menteri Keuangan dengan batas waktu tidak&nbsp;<br>
		boleh melebihi lima belas hari setelah saat terhutangnya atau berakhirnya Masa Pajak.&nbsp;<br>
		Keterlambatan dalam pembayaran masa tersebut berakibat dikenakannya sanksi administrasi&nbsp;<br>
		berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) per bulan.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b Wajib Pajak wajib menyampaikan SPT&nbsp;<br>
		Tahunan dalam waktu tiga bulan setelah akhir Tahun Pajak. Jika pada waktu pengisian SPT&nbsp;<br>
		tersebut ternyata masih terdapat kekurangan pembayaran pajak yang terhutang, maka&nbsp;<br>
		kekurangan pembayaran pajak tersebut harus dibayar lunas sebelum SPT Tahunan itu&nbsp;<br>
		disampaikan, misalnya SPT harus disampaikan pada tanggal 31 Maret, kekurangan&nbsp;<br>
		pembayaran pajak yang terhutang atau setoran terakhir harus sudah dilunasi sebelum SPT&nbsp;<br>
		disampaikan.<br>
<br>
	Ayat (3)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (4)<br>
		Direktur Jenderal Pajak dapat memperkenankan penundaan pembayaran pajak yang&nbsp;<br>
		terhutang, meskipun tanggal jatuh tempo pembayaran telah ditentukan. Kelonggaran tersebut&nbsp;<br>
		diberikan dengan hati-hati dan terbatas kepada Wajib Pajak yang benar-benar sedang&nbsp;<br>
		mengalami kesulitan likuiditas. Dipersyaratkan untuk mendapatkan kelonggaran tersebut,&nbsp;<br>
		Wajib Pajak harus mengajukan permohonan tertulis disertai alasan-alasan yang dapat&nbsp;<br>
		dipertanggungjawabkan dan meyakinkan.<br>
<br>
Pasal 10<br>
	Ayat (1)<br>
		Direktorat Jenderal Pajak tidak diperbolehkan menerima setoran pajak dari Wajib Pajak.&nbsp;<br>
		Semua penyetoran pajak-pajak negara, harus disetorkan di Kas negara atau tempat-tempat&nbsp;<br>
		pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan, seperti yang selama ini telah&nbsp;<br>
		ditetapkan yakni di Kantor Pos dan Giro di beberapa Bank Pemerintah. Dengan usaha&nbsp;<br>
		memperluas tempat-tempat pembayaran pajak yang mudah dijangkau oleh Wajib Pajak,&nbsp;<br>
		dimaksudkan untuk mempermudah Wajib Pajak dalam memenuhi kewajibannya, sekaligus&nbsp;<br>
		menghindarkan adanya rasa keengganan dalam melaksanakan pembayaran pajak.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Dengan adanya penentuan tata cara pembayaran pajak, penyetoran pajak dan pelaporannya&nbsp;<br>
		yang akan ditentukan dengan Peraturan Menteri Keuangan, demikian juga mengenai tata cara&nbsp;<br>
		mengangsur dan menunda pembayaran pajak, diharapkan akan dapat mempermudah&nbsp;<br>
		pelaksanaan pembayaran pajak dan mempermudah penampungan administrasinya.<br>
<br>
Pasal 11<br>
	Ayat (1)<br>
		Jika setelah diadakan perhitungan jumlah pajak yang sebenarnya terhutang dengan jumlah&nbsp;<br>
		pajak yang telah dibayar menunjukkan jumlah selisih lebih (jumlah pajak yang telah dibayar&nbsp;<br>
		lebih besar dari jumlah pajak yang terhutang), Wajib Pajak berhak untuk meminta kembali&nbsp;<br>
		kelebihan pembayaran pajak, dengan catatan Wajib Pajak tersebut tidak mempunyai hutang&nbsp;<br>
		pajak lain.<br>
<br>
		Dalam hal Wajib Pajak masih mempunyai hutang pajak lainnya yang belum dilunasi, kelebihan&nbsp;<br>
		pembayaran tersebut harus diperhitungkan lebih dahulu dengan hutang pajak tersebut dan&nbsp;<br>
		bilamana masih terdapat sisa lebih, baru dapat dikembalikan kepada Wajib Pajak. Untuk&nbsp;<br>
		memperoleh kembali kelebihan pembayaran tersebut, Wajib Pajak harus mengajukan&nbsp;<br>
		permohonan tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak atau pejabat yang ditunjuknya.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Untuk menjamin adanya kepastian hukum bagi Wajib Pajak dan menjamin ketertiban&nbsp;<br>
		administrasi, batas waktu pengembalian oleh Direktur Jenderal Pajak ditetapkan dalam jangka&nbsp;<br>
		waktu selama-lamanya satu bulan setelah Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak&nbsp;<br>
		ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.<br>
<br>
	Ayat (3)<br>
		Untuk terciptanya keseimbangan hak dan kewajiban bagi Wajib Pajak dengan kecepatan&nbsp;<br>
		pelayanan oleh Direktorat Jenderal Pajak, ayat ini menentukan, bahwa atas setiap kelambatan&nbsp;<br>
		dalam pengembalian kelebihan pembayaran pajak dari jangka waktu tersebut pada ayat (2),&nbsp;<br>
		kepada Wajib Pajak yang bersangkutan diberikan imbalan oleh Pemerintah berupa bunga&nbsp;<br>
		sebesar 2% (dua persen) per bulan, dihitung sejak saat berlakunya batas waktu satu bulan&nbsp;<br>
		sampai saat dilakukan pembayaran. Yang dimaksud dengan saat dilakukan pembayaran&nbsp;<br>
		kelebihan pembayaran pajak adalah saat Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak&nbsp;<br>
		(SPMKP) diterbitkan.<br>
<br>
	Ayat (4)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
Pasal 12<br>
	Pada prinsipnya pajak terhutang pada saat timbulnya obyek pajak yang dapat dikenakan pajak. Saat&nbsp;<br>
	terhutangnya pajak tersebut adalah :<br>
<br>
	a.	Pada Suatu Saat, untuk Pajak Penghasilan yang dipotong oleh pihak ketiga;<br>
<br>
	b.	Pada Akhir Masa, untuk Pajak Penghasilan karyawan yang dipotong oleh pemberi kerja, atau&nbsp;<br>
		oleh pihak lain atas kegiatan usaha, atau oleh pengusaha atas pemungutan Pajak&nbsp;<br>
		Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.<br>
<br>
	c.	Pada akhir Tahun Pajak, untuk Pajak Penghasilan. Jumlah pajak terhutang yang telah&nbsp;<br>
		dipotong, dipungut, ataupun yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak setelah tiba saat&nbsp;<br>
		atau masa pelunasan pembayaran sebagaimana ditentukan dalam Pasal 9 dan Pasal 10&nbsp;<br>
		ayat (2), oleh Wajib Pajak harus disetorkan ke Kas Negara atau tempat lain yang telah&nbsp;<br>
		ditentukan.<br>
<br>
	Berdasarkan undang-undang ini Direktorat Jenderal Pajak tidak lagi berkewajiban untuk menerbitkan&nbsp;<br>
	Surat Ketetapan Pajak atas keseluruhan SPT Wajib Pajak. Penerbitan sesuatu Surat Ketetapan Pajak&nbsp;<br>
	hanya terbatas pada Wajib Pajak tertentu yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian SPT&nbsp;<br>
	atau karena ditemukannya data fiskal yang tidak dilaporkan oleh Wajib Pajak.<br>
<br>
Pasal 13<br>
	Ayat (1)<br>
		Ketentuan ayat ini memberi wewenang kepada Direktur Jenderal Pajak untuk dapat&nbsp;<br>
		menerbitkan Surat Ketetapan Pajak, yang pada hakekatnya hanya terhadap kasus-kasus&nbsp;<br>
		tertentu seperti tersebut dalam ayat ini, atau tegasnya hanya terhadap Wajib Pajak tertentu&nbsp;<br>
		yang nyata-nyata atau berdasarkan hasil penelitian dan pemeriksaan tidak memenuhi&nbsp;<br>
		kewajiban formal dan kewajiban material.<br>
<br>
		Wewenang yang diberikan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan kepada&nbsp;<br>
		Direktur Jenderal Pajak untuk melakukan koreksi fiskal tersebut, dibatasi sampai dengan&nbsp;<br>
		kurun waktu lima tahun saja.<br>
<br>
		Menurut ketentuan ayat (1) huruf a, Surat Ketetapan Pajak baru diterbitkan bilamana Wajib&nbsp;<br>
		Pajak tidak membayar pajak sebagaimana mestinya menurut ketentuan peraturan perundang-<br>
		undangan perpajakan. Diketahuinya bahwa Wajib Pajak tidak atau kurang membayar pajak,&nbsp;<br>
		adalah karena dilakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang bersangkutan dan dari hasil&nbsp;<br>
		pemeriksaan itu diketahui bahwa Wajib Pajak kurang membayar dari jumlah yang seharusnya&nbsp;<br>
		terhutang. Pemeriksaan dapat dilakukan di tempat Wajib Pajak dengan sifat pemeriksaan&nbsp;<br>
		buku lengkap atau melalui penelitian administrasi perpajakan.<br>
<br>
		Surat ketetapan Pajak dapat juga diterbitkan dalam hal Direktur Jenderal Pajak memiliki data&nbsp;<br>
		lain di luar data yang disampaikan oleh Wajib Pajak sendiri, dari data mana dapat dipastikan&nbsp;<br>
		( bukan dugaan ), bahwa Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban pajaknya sebagaimana&nbsp;<br>
		mestinya.<br>
<br>
		Untuk memastikan kebenaran data itu, terhadap Wajib Pajak dapat dilakukan pemeriksaan.<br>
<br>
		SPT yang tidak disampaikan pada waktunya, walaupun telah ditegor secara tertulis dan tidak&nbsp;<br>
		juga disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dalam Surat Tegoran itu, menurut&nbsp;<br>
		ketentuan ayat (1) huruf b membawa akibat, bahwa Direktur Jenderal Pajak dapat&nbsp;<br>
		menerbitkan Surat Ketetapan Pajak secara jabatan. Terhadap ketetapan seperti ini dikenakan&nbsp;<br>
		sanksi administrasi berupa kenaikan sebagaimana diatur dalam ayat (3).<br>
<br>
		Tegoran itu antara lain dimaksudkan pula untuk memberi kesempatan kepada Wajib Pajak&nbsp;<br>
		yang beritikad baik, untuk menyampaikan alasan atau sebab-sebab tidak dapatnya SPT&nbsp;<br>
		disampaikan apabila karena terjadinya sesuatu hal di luar kemampuan (force mayeur).<br>
<br>
		Dalam hal SPT disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dalam Surat Tegoran dan&nbsp;<br>
		pajak yang terhutang dilunasi sebagaimana mestinya, Surat Ketetapan Pajak tidak akan&nbsp;<br>
		diterbitkan dengan anggapan bahwa SPT tersebut telah diisi dengan benar sesuai dengan&nbsp;<br>
		ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.<br>
<br>
		Bagi Wajib Pajak yang dengan sengaja melakukan pelanggaran dalam kewajiban perpajakan&nbsp;<br>
		di bidang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah,&nbsp;<br>
		berupa pelaksanaan kompensasi selisih lebih pembayaran pajak, tarip 0% (nol persen) yang&nbsp;<br>
		semestinya bukan 0% ( nol persen ), pengembalian pembayaran pajak yang seharusnya tidak&nbsp;<br>
		perlu terjadi seperti tersebut dalam ayat (1) huruf c, dikenakan sanksi administrasi dengan&nbsp;<br>
		menerbitkan Surat Ketetapan pajak ditambah kenaikan sebesar 100% (seratus persen).<br>
<br>
		Bagi Wajib Pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan menurut ketentuan Pasal 28&nbsp;<br>
		undang-undang ini atau pada saat diperiksa tidak memenuhi permintaan menurut Pasal 29&nbsp;<br>
		ayat (2), sehingga Direktur Jenderal Pajak tidak dapat mengetahui keadaan usaha Wajib&nbsp;<br>
		Pajak yang sebenarnya dan berakibat tidak dapat dihitung jumlah pajak yang seharusnya&nbsp;<br>
		terhutang, maka Direktur Jenderal Pajak berwenang menerbitkan Surat Ketetapan Pajak&nbsp;<br>
		dengan penghitungan secara jabatan, yaitu penghitungan pajak yang didasarkan pada data&nbsp;<br>
		yang tidak hanya diperoleh Wajib Pajak saja. Sebagai konsekwensinya beban pembuktian&nbsp;<br>
		atas uraian perhitungan yang dijadikan dasar penghitungan secara jabatan oleh Direktur&nbsp;<br>
		Jenderal Pajak, diletakkan pada Wajib Pajak.<br>
<br>
		Sebagai contoh diberikan antara lain :<br>
<br>
		1)	pembukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (4) tidak lengkap, sehingga&nbsp;<br>
			penghitungan rugi laba atau peredaran tidak jelas;<br>
<br>
		2)	dokumen-dokumen pembukuan tidak lengkap sehingga angka-angka dalam&nbsp;<br>
			pembukuan tidak dapat diuji;<br>
<br>
		3)	dari rangkaian penelitian dan fakta-fakta yang diketahui besar dugaan&nbsp;<br>
			disembunyikannya dokumen atau barang bukti lain di suatu tempat tertentu, sehingga&nbsp;<br>
			dari sikap demikian jelas Wajib Pajak telah tidak menunjukkan itikad baiknya untuk&nbsp;<br>
			membantu kelancaran jalannya pemeriksaan.<br>
<br>
	Ayat (2)&nbsp;<br>
		Ayat ini mengatur sanksi administrasi perpajakan yang dikenakan kepada Wajib Pajak,&nbsp;<br>
		karena melanggar kewajiban perpajakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a.&nbsp;<br>
		Sanksi administrasi perpajakan dalam ayat ini berupa sanksi bunga yang dituangkan dalam&nbsp;<br>
		Surat Ketetapan Pajak.<br>
<br>
		Contoh :<br>
		Seorang Wajib Pajak Pajak Penghasilan yang mempunyai tahun buku sama dengan tahun&nbsp;<br>
		takwim memasukkan SPT Tahunan untuk tahun 1984 tepat pada waktunya yang disertai&nbsp;<br>
		dengan setoran akhir. Pada bulan April 1987 dikeluarkan Surat Ketetapan Pajak yang&nbsp;<br>
		menunjukkan kekurangan pajak yang terhutang sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah).&nbsp;<br>
<br>
		Berdasarkan ketentuan ayat ini maka atas kekurangan tersebut dikenakan bunga 2% ( dua&nbsp;<br>
		persen ) sebulan. Walaupun Surat Ketetapan Pajak tersebut diterbitkan lebih dari dua tahun&nbsp;<br>
		sejak berakhirnya Tahun Pajak, bunga dikenakan atas kekurangan tersebut hanya untuk masa&nbsp;<br>
		dua tahun dengan perhitungan sebagai berikut :<br>
<br>
		-	Kekurangan pajak yang terhutang				= Rp 1.000.000,-<br>
		-	Bunga 2 tahun =		2% x 2 x 12 x Rp. 1.000.000	= Rp   480.000,-<br>
											______________+<br>
								Masih harus dibayar	= Rp 1.480.000,-<br>
<br>
		Seandainya Surat Ketetapan Pajak tersebut diterbitkan bulan Mei 1986 maka perhitungannya&nbsp;<br>
		adalah sebagai berikut :<br>
<br>
		-	Kekurangan pajak yang terhutang				= Rp 1.000.000,-<br>
		-	Bunga 17 bulan = 2% x 17 x Rp 1.000.000			= Rp    340.000,-<br>
											______________+<br>
								Masih harus dibayar 	=Rp 1.340.000,-<br>
<br>
	Ayat (3)<br>
		Ayat ini mengatur sanksi administrasi dari suatu Ketetapan Pajak, karena melanggar&nbsp;<br>
		kewajiban perpajakan, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c, dan huruf d.&nbsp;<br>
		Sanksi administrasi demikian berupa "kenaikan", yaitu suatu jumlah proporsional yang harus&nbsp;<br>
		ditambahkan pada jumlah pajak yang harus ditagih.<br>
<br>
		Besarnya sanksi administrasi berupa kenaikan berbeda-beda menurut jenis pajaknya yaitu&nbsp;<br>
		untuk jenis Pajak Penghasilan yang dibayar sendiri oleh Wajib Pajak sanksi kenaikan&nbsp;<br>
		sebesar 50 % ( lima puluh persen ), untuk jenis Pajak Penghasilan yang dipotong oleh orang/<br>
		badan lain sanksi kenaikan sebesar 100% ( seratus persen ), sedangkan untuk jenis Pajak&nbsp;<br>
		Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sanksi kenaikan&nbsp;<br>
		sebesar 100% ( seratus persen ).<br>
<br>
	Ayat (4)<br>
		Yang dimaksud dengan pajak yang "dikreditkan" ialah jumlah pengurangan pajak yang terdiri&nbsp;<br>
		dari :&nbsp;<br>
		1.	pajak yang dipotong oleh pihak ketiga,<br>
		2.	pajak yang dipungut oleh pihak ketiga,<br>
		3.	pajak yang dibayar sendiri,<br>
		4.	pajak yang ditagih dalam Surat Tagihan Pajak (STP),<br>
		5.	pajak yang terhutang di luar negeri.<br>
<br>
		Jumlah pengurangan tersebut dikurangkan dari pajak yang terhutang.<br>
<br>
		Contoh :<br>
		Surat Ketetapan Pajak Penghasilan (SKP PPh).<br>
<br>
		1.	Pajak yang terhutang:						Rp 1.000.000,-<br>
		2.	Pengurangan-pengurangan  :<br>
<br>
			a.	Pajak yang dipotong oleh pemberi kerja 	  Rp    150.000,-<br>
			b.	Pajak yang dibayar sendiri (setoran masa) Rp    400.000,-<br>
			c.	Pajak yang ditagih dalam STP<br>
				(tidak termasuk bunga dan denda)	  Rp      75.000,-<br>
			d.	Pajak yang ditagih di luar negeri		  Rp    100.000,-<br>
			Jumlah pajak yang dikreditkan					Rp    725.000,-<br>
											____________<br>
		3.	Pajak yang masih harus ditagih					Rp    275.000,-<br>
<br>
	Ayat (5)<br>
		Sanksi administrasi berupa bunga, denda administrasi, dan kenaikan, tidak dapat&nbsp;<br>
		diperhitungkan atau dikreditkan terhadap jumlah pajak terhutang. Dengan demikian, dalam&nbsp;<br>
		hal akan dilakukan perhitungan atau pengembalian kelebihan pembayaran pajak, jumlah&nbsp;<br>
		sanksi administrasi perpajakan yang telah dibayar harus dikeluarkan lebih dahulu dari jumlah&nbsp;<br>
		kelebihan pembayaran yang akan diterima oleh Wajib Pajak.<br>
<br>
	Ayat (6)<br>
		Untuk memberikan kepastian dan jaminan hukum bagi para Wajib Pajak, berkenaan dengan&nbsp;<br>
		pelaksanaan pemungutan pajak dengan sistem "self assessment", maka apabila dalam waktu&nbsp;<br>
		lima tahun sejak saat terhutangnya pajak, berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau&nbsp;<br>
		berakhirnya Tahun Pajak, Direktorat Jenderal Pajak tidak juga menerbitkan Surat Ketetapan&nbsp;<br>
		Pajak, maka jumlah pembayaran pajak yang diberitahukan dalam SPT Masa atau SPT&nbsp;<br>
		Tahunan pada hakekatnya telah menjadi tetap dengan sendirinya atau telah menjadi pasti&nbsp;<br>
		karena hukum menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Dengan&nbsp;<br>
		demikian, SPT Wajib Pajak yang bersangkutan telah merupakan ketetapan yang tetap dan&nbsp;<br>
		tidak akan diubah (rampung).<br>
<br>
	Ayat (7)<br>
		Dalam hal Wajib Pajak, dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan&nbsp;<br>
		mengenai pajak yang penagihannya telah lewat waktu, berdasarkan putusan Pengadilan yang&nbsp;<br>
		telah memperoleh kekuatan hukum tetap Surat Ketetapan Pajak masih dibenarkan untuk&nbsp;<br>
		diterbitkan, meskipun jangka waktu lima tahun sebagaimana ditentukan dalam ayat (1) telah&nbsp;<br>
		dilampaui. Dengan adanya putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap&nbsp;<br>
		tersebut, terungkap adanya data fiskal yang selama itu sengaja tidak dilaporkan oleh Wajib&nbsp;<br>
		Pajak.<br>
<br>
Pasal 14<br>
	Ayat (1)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Surat Tagihan Pajak menurut ayat ini dipersamakan kekuatan hukumnya dengan Surat&nbsp;<br>
		Ketetapan Pajak, sehingga dalam hal penagihannya dapat juga dilakukan dengan Surat Paksa.<br>
<br>
Pasal 15<br>
	Ayat (1)<br>
		Untuk menampung kemungkinan terjadinya suatu Surat Ketetapan Pajak yang ternyata telah&nbsp;<br>
		ditetapkan lebih rendah, atau telah dilakukan pengembalian pajak yang tidak seharusnya,&nbsp;<br>
		atau pada waktu dilakukan penetapan dalam bentuk Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak,&nbsp;<br>
		atau penerbitan Surat Pemberitaan, undang-undang ini masih memberikan wewenang kepada&nbsp;<br>
		Direktur Jenderal Pajak untuk menerbitkan Ketetapan Pajak Tambahan dalam jangka waktu&nbsp;<br>
		lima tahun sesudah saat terhutang pajak, berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau&nbsp;<br>
		Tahun Pajak. Surat Ketetapan Pajak Tambahan merupakan koreksi atas Surat Ketetapan&nbsp;<br>
		Pajak sebelumnya. Surat Ketetapan Pajak Tambahan baru diterbitkan apabila sebelumnya&nbsp;<br>
		telah pernah diterbitkan Surat Ketetapan Pajak. Dengan perkataan lain Surat Ketetapan Pajak&nbsp;<br>
		Tambahan tidak akan mungkin diterbitkan sebelum didahului dengan penerbitan Surat&nbsp;<br>
		Ketetapan Pajak.<br>
<br>
		Ayat ini tidak hanya mensyaratkan harus adanya data baru ( novum ) dalam penerbitan Surat&nbsp;<br>
		Ketetapan Pajak Tambahan. Dalam hal masih ditemukan lagi data yang belum terungkap pada&nbsp;<br>
		saat diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Tambahan, atau baru diketahui, kemudian oleh&nbsp;<br>
		Direktur Jenderal Pajak Surat Ketetapan Pajak Tambahan masih dapat diterbitkan lagi.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (3)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (4)<br>
		Dalam hal Wajib Pajak dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan&nbsp;<br>
		mengenai pajak yang penagihannya telah lewat waktu berdasarkan putusan Pengadilan yang&nbsp;<br>
		telah memperoleh kekuatan hukum tetap, Surat Ketetapan Pajak Tambahan masih dibenarkan&nbsp;<br>
		untuk diterbitkan, meskipun jangka waktu lima tahun sebagaimana ditentukan dalam Pasal 15&nbsp;<br>
		ayat (1) telah dilampaui. Dengan adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh&nbsp;<br>
		kekuatan hukum tetap tersebut, terungkap adanya data fiskal yang selama itu sengaja tidak&nbsp;<br>
		dilaporkan Wajib Pajak.<br>
<br>
Pasal 16<br>
	Apabila terjadi kesalahan tulis, kesalahan hitung atau kekeliruan dalam surat ketetapan pajak seperti&nbsp;<br>
	salah ketik, salah dalam jumlah, salah penerapan tarip, Direktur Jenderal Pajak secara jabatan atau&nbsp;<br>
	atas permintaan Wajib Pajak, dapat membetulkan Surat Ketetapan Pajak/Surat Ketetapan Pajak&nbsp;<br>
	Tambahan yang salah atau keliru tersebut.<br>
	Pengertian membetulkan dalam ayat ini bisa berarti menambah, atau mengurangkan atau&nbsp;<br>
	menghapuskan, tergantung pada sifat kesalahan atau kekeliruannya.<br>
<br>
Pasal 17<br>
	Ayat (1)&nbsp;<br>
		huruf a.<br>
			Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak ( SKKPP ) dapat diterbitkan, setelah&nbsp;<br>
			oleh Direktur Jenderal Pajak diadakan penelitian atau pemeriksaan dengan maksud&nbsp;<br>
			untuk memastikan dan memberikan keyakinan, bahwa memang benar-benar terdapat&nbsp;<br>
			kelebihan pembayaran atas jumlah pajak yang terhutang.<br>
<br>
			Surat Keputusan Kelebihan Pembayaran Pajak tersebut harus diterbitkan dalam&nbsp;<br>
			jangka waktu paling lama dua belas bulan setelah surat permohonan diterima.<br>
<br>
			Dengan batas waktu tersebut, selain memperhatikan kepentingan kepastian hukum&nbsp;<br>
			bagi Wajib Pajak, juga dimaksudkan pula untuk kepentingan tertib administrasi&nbsp;<br>
			perpajakan.<br>
	Ayat (1)&nbsp;<br>
		huruf b.<br>
			Surat Pemberitaan dapat diterbitkan setelah oleh Direktur Jenderal Pajak diadakan&nbsp;<br>
			penelitian atau pemeriksaan dengan maksud untuk memastikan dan memberikan&nbsp;<br>
			keyakinan bahwa memang benar-benar jumlah pajak yang dibayar oleh Wajib Pajak&nbsp;<br>
			dan yang telah dipotong/dipungut oleh pihak ketiga sama besarnya dengan jumlah&nbsp;<br>
			pajak yang terhutang.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
Pasal 18<br>
	Ayat (1)<br>
		Pada dasarnya besarnya hutang pajak dihitung sendiri oleh Wajib Pajak. Baru apabila&nbsp;<br>
		kemudian ternyata terdapat kekeliruan atau kesalahan Wajib Pajak dalam melakukan&nbsp;<br>
		penghitungan pajak yang terhutang atau Wajib Pajak melanggar ketentuan yang diatur dalam&nbsp;<br>
		undang-undang perpajakan. Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Tagihan Pajak,&nbsp;<br>
		Surat Ketetapan Pajak atau Surat Ketetapan Pajak Tambahan. Ketiga surat ini merupakan&nbsp;<br>
		sarana administrasi bagi Direktur Jenderal Pajak untuk melakukan penagihan pajak. Dalam&nbsp;<br>
		hal tagihan pajak tersebut tidak dibayar pada tanggal jatuh tempo yang telah ditetapkan,&nbsp;<br>
		penagihannya dapat dilakukan dengan Surat Paksa.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Untuk tertibnya dan keseragaman tindakan dalam melaksanakan penagihan pajak, Menteri&nbsp;<br>
		Keuangan akan mengatur tata caranya termasuk aspek administrasi baik mengenai tindakan&nbsp;<br>
		penagihan itu sendiri maupun aspek pelaksanaan pembayaran atas tagihan.<br>
<br>
Pasal 19<br>
	Ayat (1)<br>
		Ayat ini mengatur pengenaan bunga atas pajak yang tidak dibayar atau kurang dibayar pada&nbsp;<br>
		saat jatuh tempo pembayaran atau terlambat dibayar. Untuk jelasnya cara penghitungan&nbsp;<br>
		bunga tersebut diberikan contoh sebagai berikut :<br>
<br>
		1.	Atas jumlah pajak yang kurang dibayar.&nbsp;<br>
			Surat Ketetapan Pajak Penghasilan ( SKP PPh ) Pajak terhutang atau ditagih&nbsp;<br>
			( dianggap tidak ada jumlah pajak yang dikreditkan ) : Rp 100.000,- SKP diterbitkan&nbsp;<br>
			tanggal 10 Oktober 1985.<br>
<br>
			Harus dilunasi paling lambat tanggal 10 Nopember 1985, tetapi baru dibayar sejumlah&nbsp;<br>
			Rp 60.000,- pada tanggal 1 Nopember 1985. Sampai pada tanggal batas waktu&nbsp;<br>
			pembayaran ( 10 Nopember 1985 ) terakhir sisa tagihan tidak  dibayar lagi oleh Wajib&nbsp;<br>
			Pajak.<br>
<br>
			Pada tanggal 18 Nopember 1985 diterbitkan Surat Tagihan Pajak oleh Direktur&nbsp;<br>
			Jenderal Pajak dengan perhitungan sebagai berikut :<br>
			Pajak terhutang				= Rp 100.000,-<br>
			Dibayar pada waktunya			= Rp   60.000,-<br>
			Kurang Dibayar				= Rp   40.000,-<br>
			Bunga<br>
			Dihitung satu bulan =<br>
			1 x 2% x Rp 40.000,- = Rp 800,-<br>
			Bunga tersebut ditagih dengan STP.<br>
<br>
		2.	Atas jumlah pajak yang terlambat dibayar.<br>
			Dasarnya sama dengan contoh nomor 1.<br>
			Dibayar penuh tetapi terlambat, misalnya dibayar tanggal 20 Nopember 1985.&nbsp;<br>
			Tanggal 24 Nopember 1985 diterbitkan SPT.<br>
			Bunga terhutang dalam Surat Tagihan Pajak dihitung satu bulan = 1 x 2% x&nbsp;<br>
			Rp 100.000,- = Rp  2.000,-<br>
<br>
		3.	Atas jumlah pajak yang kurang dan terlambat dibayar.<br>
			Dasarnya sama dengan contoh nomor 1.<br>
			Dibayar sejumlah Rp 60.000,- pada tanggal 20 Nopember 1985.<br>
			Tanggal 24 Nopember 1985 diterbitkan STP.<br>
			Bunga terhutang dihitung satu bulan =<br>
			1 x 2 % x Rp. 100.000,- = Rp 2.000,-<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (3)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
Pasal 20<br>
	Dalam hal terjadi suatu peristiwa atau keadaan sebagaimana dimaksud dalam pasal ini, maka untuk&nbsp;<br>
	menjaga kemungkinan terjadinya sesuatu yang akan mengakibatkan pajak yang terhutang tidak dapat&nbsp;<br>
	ditagih, tanpa menunggu jatuh tempo pembayaran dalam Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak&nbsp;<br>
	atau Surat Ketetapan Pajak Tambahan, penagihannya dapat dilakukan seketika dan sekaligus.<br>
<br>
Pasal 21<br>
	Ayat (1)<br>
		Ayat ini menetapkan kedudukan Negara sebagai kreditur preferen yang dinyatakan&nbsp;<br>
		mempunyai hak mendahulu atas barang-barang milik Wajib Pajak, dan barang-barang milik&nbsp;<br>
		Wakilnya akan dilelang di muka umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2).&nbsp;<br>
		Dalam hal telah dilakukan tindakan penagihan sampai kepada tindakan penagihan aktif,&nbsp;<br>
		seterusnya pelelangan di muka umum atas barang-barang milik Wajib Pajak, tetapi hasil dari&nbsp;<br>
		pelelangan di muka umum barang-barang milik Wajib Pajak tersebut belum cukup untuk&nbsp;<br>
		melunasi hutang pajaknya, maka barang-barang milik wakilnya, sepanjang dalam&nbsp;<br>
		kedudukannya bertanggung jawab untuk itu, akan disita dan dilelang di muka umum untuk&nbsp;<br>
		melunasi hutang pajak Wajib Pajak.<br>
<br>
		Setelah hutang pajak dilunasi baru diselesaikan pembayaran kepada kreditur lainnya. Maksud&nbsp;<br>
		dari ayat ini adalah untuk memberi kesempatan pada Pemerintah untuk mendapatkan&nbsp;<br>
		pembagian lebih dahulu dari kreditur lain atas hasil pelelangan barang-barang milik Wajib&nbsp;<br>
		Pajak atau Wakilnya di muka umum guna menutupi atau melunasi tunggakan pajaknya.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (3)<br>
		Pada ayat ini ditegaskan bahwa hak mendahulu ini melebihi segala hak lainnya, artinya lebih&nbsp;<br>
		kuat dari hak lainnya kecuali terhadap pihak-pihak sebagaimana dimaksud dalam :<br>
<br>
		1.	Pasal 1139 angka 1 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang berbunyi : "biaya&nbsp;<br>
			perkara yang semata-mata disebabkan karena suatu penghukuman untuk melelang&nbsp;<br>
			suatu barang bergerak maupun tak bergerak. Biaya ini dibayar dari hasil penjualan&nbsp;<br>
			benda-benda tersebut terlebih dahulu daripada semua piutang lainnya yang&nbsp;<br>
			diistimewakan, bahkan lebih dahulu pula daripada gadai dan hipotik".<br>
<br>
		2.	Pasal 1139 angka 4 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang berbunyi : "biaya&nbsp;<br>
			yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan suatu barang".<br>
<br>
		3.	Pasal 1149 angka 1 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang berbunyi : "biaya&nbsp;<br>
			perkara yang semata-mata disebabkan karena pelelangan dan penyelesaian suatu&nbsp;<br>
			warisan; biaya ini didahulukan daripada gadai dan hipotik".<br>
<br>
		4.	Pasal 80 dan Pasal 81 Kitab Undang-undang Hukum Dagang, mengenai hak tagihan&nbsp;<br>
			seorang komisioner.<br>
<br>
	Ayat (4)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (5)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
Pasal 22<br>
	Pada dasarnya pelaksanaan penagihan Pajak daluwarsa dalam waktu lima tahun, tetapi dapat saja&nbsp;<br>
	melebihi lima tahun apabila :<br>
<br>
	1.	telah dikeluarkan Surat Tegoran dan Surat Paksa;&nbsp;<br>
	2.	adanya pengakuan Wajib Pajak secara langsung atau tidak langsung antara lain :<br>
		a.	dilakukan pembayaran hutang pajak itu;<br>
		b.	diajukan permohonan penundaan pembayaran; atau<br>
		c.	diadakannya pengangsuran pembayaran.<br>
<br>
	Dalam hal demikian kedaluwarsaan penagihan piutang pajak dihitung dari saat terjadinya peristiwa-<br>
	peristiwa tersebut di atas.<br>
<br>
Pasal 23<br>
	Cukup jelas.<br>
<br>
Pasal 24<br>
	Menteri Keuangan akan mengatur tata cara penghapusan dan menentukan besarnya jumlah piutang&nbsp;<br>
	pajak yang tidak dapat ditagih lagi. Melalui cara ini akan dapat diperkirakan secara efektif besarnya&nbsp;<br>
	saldo piutang pajak yang akan dapat ditagih atau dicairkan.<br>
<br>
Pasal 25<br>
	Ayat (1)<br>
		Perkataan "suatu" dalam ayat ini, dimaksudkan bahwa satu keberatan harus diajukan untuk&nbsp;<br>
		satu jenis pajak dan satu tahun pajak, misalnya : Pajak Penghasilan Tahun Pajak 1985 dan&nbsp;<br>
		Tahun Pajak 1986. Keberatan terhadap Surat Ketetapan Pajak Penghasilan Tahun 1985 dan&nbsp;<br>
		Tahun 1986 tersebut, harus diajukan masing-masing dalam satu Surat Keberatan tersendiri.&nbsp;<br>
		Untuk dua tahun pajak tersebut harus diajukan dua buah Surat Keberatan.<br>
<br>
	Ayat (2)<br>
		Cukup jelas.<br>
<br>
	Ayat (3)<br>
		Batas waktu pengajuan Surat Keberatan ditentukan dalam waktu tiga bulan sejak&nbsp;<br>
		diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak atau SKP sebagaimana ditentukan dalam ayat (1),&nbsp;<br>
		dengan maksud agar supaya Wajib Pajak mempunyai waktu yang cukup memadai untuk&nbsp;<br>
		mempersiapkan Surat Keberatan beserta alasannya.<br>
<br>
		Apabila ternyata bahwa batas waktu tiga bulan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Wajib Pajak,&nbsp;<br>
		karena keadaan diluar kekuasaan Wajib Pajak ( force mayeur ), maka tenggang waktu&nbsp;<br>
		selama tiga bulan tersebut masih dapat dipertimbangkan untuk diperpanjang oleh Direktur&nbsp;<br>
		Jenderal Pajak.<br>
<br>
	Ayat (4)<br>
		Tanda bukti/Resi penerimaan Surat Keberatan sangat diperlukan untuk memenuhi ketentuan&nbsp;<br>
		formal. Diterima atau tidaknya hak mengajukan Surat Keberatan dimaksud, tergantung&nbsp;<br>
		dipenuhinya ketentuan batas waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), yang dihitung&nbsp;<br>
		mulai diterbitkannya sampai saat diterimanya Surat Keberatan tersebut.<br>
<br>
		Tanda bukti atau resi penerimaan tersebut oleh Wajib Pajak dapat juga digunakan sebagai&nbsp;<br>
		alat kontrol baginya, untuk mengetahui sampai kapan batas waktu dua belas bulan&nbsp;<br>
		sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1) itu berakhir.<br>
<br>
		Tanda bukti atau resi penerimaan itu diperlukan untuk memastikan bahwa keberatannya&nbsp;<br>
		dikabulkan, apabila dalam jangka waktu tersebut Wajib Pajak tidak menerima surat balasan&nbsp;<br>
		dari Direktur Jenderal Pajak atas keberatan yang diajukannya. Inilah yang dimaksud dengan&nbsp;<br>
		kata "kepentingan" dalam ayat ini.<br>
<br>
	Ayat (5)<br>
		Agar Wajib Pajak dapat menyusun keberatan dengan alasan-alasan yang kuat, Wajib Pajak&nbsp;<br>
		diberi hak untuk meminta dasar-dasar pengenaan, pemotongan atau pemungutan pajak yang&nbsp;<br>
		telah ditetapkan, sebaliknya Direktur Jenderal Pajak berkewajiban untuk memenuhi&nbsp;<br>
		permintaan tersebut di atas.<br>
<br>
	Ayat (6)<br>
		Untuk mencegah usaha penghindaran atau penundaan pajak melalui pengajuan Surat&nbsp;<br>
		Keberatan, maka pengajuan keberatan itu tidak menghalangi tindakan penagihan. Ketentuan&nbsp;<br>
		ini perlu dicantumkan dengan maksud agar Wajib Pajak dengan dalih mengajukan keberatan,&nbsp;<br>
		untuk tidak melakukan kewajiban untuk membayar pajak yang telah ditetapkan, sehingga&nbsp;<br>
		dapat dicegah terganggunya penerimaan negara.<br>
<br>
Pasal 26<br>
	Ayat (1)<br>
		Terhadap Surat Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak kewenangan penyelesaian dalam&nbsp;<br>
		tingkat pertama diberikan kepada Direktur Jenderal Pajak d